Bermodal
informasi dari seorang teman, Mayang seorang mahasiswa fakultas hukum yang
senangnya naik gunung. Saya dan dua orang teman menetapkan tujuan pendakian
kami. Gunung Andong, yaa!!! Ini sebuah gunung yang termasuk wilayah kabupaten
Magelang. Persisnya di dusun Sawit,Girirejo.
Perjalanan
dari jogja menuju Magelang pun kami tempuh dengan mengunakan motor, rute yang
kami lalui Babarsari- Terminal tidar Magelang – belok kanan kearah kopeng –
Pasar Ngablak- Grabak – Dusun Kenteng- Dusun Sawit ( Base Camp ). Tiba di
basecamp jam 14.30, Saya, Ian dan Tyas beruntung, pendakian kami bertepatan
dengan peringatan hari berdirinya basecamp Taruna Jayagiri.
Setelah
melakukan registrasi, kami mulai melakukan pendakian menuju pos I, jalanan cor
beton yang landai, disuguhi pemandangan
ladang petani. Hijau nan indah, rute berubah memasuki jalan bertanah dengan
tangga-tangga yang dibuat oleh masyarakat untuk memudahkan para pendaki. Nafas
mulai tidak teratur, maklum!!! belum adaptasi dengan medan. Beberapa kali kami
berhenti untuk mengatur ritme nafas. Namun sepanjang perjalan tidak bertemu
sesame pendaki sekalipun. Sepi boss!!!. Semakin naik keatas, nafas semakin
terkontrol. Jam 15.00 memasuki vegetasi pohon pinus dan ternyata kami sampai di
pos I ( Gili Cino).
Ambekan sik boss!!!
Perjalanan selanjutnya adalah menuju ke
Watu gambir, berdasarkan peta yang kami lihat di basecamp, lha wong belum ada yang pernah ndaki kesini. Yaa manut peta aja.
Tanjakan terjal sudah menanti di depan mata, Ayo tetap semangat geng. Jalan mulai berliku-liku sedikit
mengurangi kekhawatiran akan tanjakan terjal. Sesekali kami memandang kearah
kaki gunung, pemandangan sawah yang hijau dengan terasering yang apik. Semoga
lahan hijau ini tetap terjaga.
Terdengar
teriakan dari arah puncak “Ayo munggah!” ternyata diketahui suara itu berasal
dari sekelompok local youth, yang
sedang mendaki juga. Mereka member semangat kami untuk segera mencapai pos watu
gambir.
Kami menemukan sumber
air, walaupun hanya pancuran kecil. Tapi sangat membantu ketika pendaki
kekurangan air. Ternyata inilah pos Watu gambir.
Air nya Segerrr
Di sini kami bertemu dengan dua
orang yang sedang mengambil air, setelah mengobrol ternyata mereka berasal dari
Magelang. Perjalanan dari watu gambir menuju pos 2 (Watu Wayang) melalui tepian gunung sehingga dapat leluasa
memandang kearah gunung merbabu. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk tiba di pos
2.
Jam 15.40 kami tiba di pertigaan jalan kekiri menuju
kearah sebuah rumah, kekanan kearah gunung. Kami memutuskan untuk menuju kearah
rumah tersebut. Dari luar rumah itu terlihat serem. Saya dan tyas yang penasaran mencoba masuk kerumah tersebut,
Sedangkan Ian memilih menunggu di luar menikmati pemandangan sekitar. Saya
melihat di dalam rumah itu ada tikar dan
seperti layaknya kamar. Setelah keluar kami sadari bahwa itu adalah
makam. Ternyata kami berada di puncak makam. Memang gunung Andong sebelum tahun
2012 tidak dibuka untuk pendakian, hanya untuk ziarah saja. Begitu cerita
mas-mas saat di basecamp.
Puncak makam euy…
Dari
puncak makam, sudah terlihat puncak Andong, namun seblum sampai kesana kami
melalui puncak tugu lasi. Jarak nya tidak begitu jauh.
16.30
kami tiba di puncak Andong di ketinggian 1726 Mdpl. Perasaan senang,
lelah bercampur menjadi satu disini. Satu hal lagi yang istimewa, disni hanya
kelompok kami yang mendaki, berasa gunung milik pribadi dech!. Padahal kalau lagi weekend rame nyampe ngantri.
Saran
aja sih, kalo mau ndaki pilih lah hari selain sabtu –minggu.
Puncak Andong dengan
background Merbabu
Selain
puncak andong ada puncak yang lebih rendak, puncak Alap-alap sebutannya. Untuk
mencapai puncak ini adrenaline kami diuji.karena harus melewati jalan setapak
dengan kiri kanan jurang, yaa, saya menyebutnya itu jurang. Satu persatu kami
berjalan melewati jalan setapak ini dengan penuh hati- hati. Disini benar-benar
terasa sensasi berada di geger sapi.
Berjalan melatih keseimbangan
Setelah berhasil melalui jalan setapak
ini, kami memutuskan untuk mendirikn tenda di tugu lasi, mengingat pesan dari
mas-mas di basecamp, kalau ada badai
lebih baik turun mendirikan tenda di puncak makam. Karena disana lebih rendah
dan agak terlindung dari angin.
Hari semakin gelap, kamipun mendirikan
tenda dan mencari ranting untuk menyalakan api. Tyas dan Ian mulai menyiapkan makanan malam. Saya pun
mencoba menyalakan api, susah juga menyalakan api, karena anginnya lumayan yahuutt. Jam 19.30 kami menyantap makanan
malam dengan menu nassi + Mie + Telur. Hmmm….Mantap!!!
Kini tiba saatnya menikmati bintang
yang ada dibawah, bukan dilangit lho,
Lampu-lampu yang berpijar begitu indah nya. Semakin malam udara semakin dingin
dan juga mulai turun hujan. Kami memutuskan masuk ke tenda untuk beristirahat.
Sekitar jam 22.00 terdengar suara orang
datang, namun karena angin yang sangat kencang, kami memilih bertahan di dalam
tenda. Ternyata setelah pagi kami ketahui rombongan yang datang adalah
teman-teman pendaki dari Jogja juga. Rombongan dari UNY.
Pagi
ini kabut tebal menyelimuti puncak Andong, padahal kami berharap dapat
memandang keindahan merbabu dari sini. Namun belum berjodoh. Kami menyiapkan
sarapan pagi. Energen dan juga roti bakar ala gunung. Dibakarnya diatas nesting
pula.Amazing bukan!
Menyiapkan roti
bakar ala gunung
Setelah asupan makanan terpenuhi
matahari mulai muncul dan kabut perlahan mulai hilang, kami mulai bisa
menikmati merbabu di hadapan mata. Indah sungguh…ehh, sungguh Indah ding...
Puas menikmati pagi dipuncak dan
berfoto ria, kami pun beres-beres untuk persiapan turun dan kembali kejogja.
Saatnya lambaikan tangan pada puncak Andong. Semoga bertemu dilain waktu,
terima kasih pengajaran nya tentang keseimbangan.
Selamat
pagi!!!
![]() |
| Tenda biru dan langit biru |
By: Satria Gayo







Tidak ada komentar:
Posting Komentar