Guys
!!!, Ini ada sedikit cerita dari kota dingin Takengon. Semoga sedikit coretan
ini bisa mengobati kerinduan berpetualang bersama kalian the Bajs..
Gunung
burni telong adalah salah satu gunung berapi aktif dengan ketinggian 2600 Mdpl,
terletak di kabupaten Bener Meriah, Aceh. Burni Telong merupakan bahasa gayo
yang arti nya gunung yang terbakar. Begitu orang menyebut gunung ini.
Perjalanan
ini kami lakukan bersembilan peserta nya adalah Mona, Ema, Lulu, Firda, Udin,
Putra, Nawar dan saya sendiri Satria. Awal perjalanan kami pun dimulai, dengan
diantar sebuah mobil Ambulance kami berangkat menuju desa Bandar Lampahan.
Biasanya membawa orang sakit, tapi kali ini membawa para pendaki. Unik kan!
Tapi jangan salah, mobil ini berjasa bagi kami, kalau tidak diantar, kami membutuhkan
waktu 1 jam lagi untuk mencapai pintu gerbang pendakian. disini kami harus
melapor terlebih dahulu. Dan membayar biaya masuk Rp 5000/ orang.
10.30 kami memulai pendakian sampai tiba disebuah gubuk,
biasa disebut rumah mamak, disini kami melingkar dan berdoa. Berdoa selesai,
kami mulai berjalan menyusuri perkebunan warga, disini tanaman nya berupa kopi
dan palawija, kebetulan sekarang para petani sedang menanam kentang. Mata kami
sangat dimanjakan oleh pemandangan tanaman palawija yang menghijau. Teman-teman
masih semangat 45, namun Nawar dan saya sempat berada di urutan belakang karena
menemani Mona yang berjalan pelan-pelan, karena kondisi tubuh yang belum
beradaptasi dengan ritme perjalanan seperti ini. Nawar yang sudah paham betul
jalur yang akan kami lalui menanyakan kepada Mona.”Gimana Mon! masih sanggup
melanjutkan pendakian?” Mona pun menyangupi. Tas Mona pun dibawakan oleh Nawar.
Pendakian kami lanjutkan sampai akhirnya kami sudah memasuki kawasan hutan.
11.20 didalam hutan medan yang kita lalui berupa jalan
setapak, yang mulai agak menanjak, terkadang dapat sedikit jalan yang datar. Bonuuss
kalau saya menyebutnya. Pohon-pohon besar yang menggambarkan betapa masih alami
nya hutan ini. Ini harus kita jaga agar anak cucu kita bisa menikmati nya:).
udara yang sejuk membuat kami tidak merasakan kelelahan yang begitu berarti.
Kami pun sampai di sumber mata air dan menemui Nawar dan Udin yang sudah
berjalan terlebih dahulu, mengingat banyaknya pendaki yang mendaki hari ini,
kami mengutus mereka kepuncak untuk mencari spot untuk mendirikan tenda. Ada
hal yang membedakan gunung ini dengan gunung lain, disini kita tidak perlu
membawa air dari awal pendakian, cukup membawa jirigen kosong saja.
11.58 ( Saatnya Loading)
Semua
jerigen kami isi untuk bekal di puncak, Air nya sangat jernih dan segar.
Namanya juga air pegunungan kan yak..jadi saya nggak segan-segan buat minum
langsung. Tapi disini belum ada petunjuk arah menuju sumber mata air. Buat
pendaki yang baru pertama mendaki ke gunung ini mungkin akan kesulitan
menemukannya. Ada baiknya mengajak penduduk setempat sebagai petunjuk jalan.
Naah..mulai dari sini beban ransel kami semakin bertambah, pendakian semakin
terasa berat. Namun semangat dari dalam diri kami yang mengalahkan segalanya.
Perjalanan untuk melewati hutan kami lanjutkan. Ada hal menarik disini, kami
menikmati harmoni dari satwa yang ada dari hutan ini. Mulai dari suara siamang,
kicauan burung. Saling sambut-menyambut membentuk sebuah irama yang merdu.
![]() |
| Sumber Mata Air |
13.30 (Saatnya karbo Loading)
Setelah
berjalan 3 jam, perjalanan sampai dipenghujung hutan. disini kami bertemu
dengan pendaki lain. Beberapa kelompok pendaki memutuskan untuk beristirahat
disini, ada juga yang tetap melanjutkan pendakian. Berhubung rasa lapar mulai
menghampiri kami semua. Berbekal nasi yang kami bungkus dari rumah. diputuskan
untuk makan siang disini. Mari Makan!!!
![]() |
| Makan Siang di penghujung hutan |
Dari
pingiran hutan ini sudah mulai terlihat puncak gunung Burni Telong, tak jarang
pendaki mendirikan tenda di sini karena tempatnya yang datar dan sangat luas.
Sesuai rencana awal, kami akan mendirikan tenda dipuncak, Sebelum melanjutkan
perjalanan, kami terlebih dahulu mencari kayu untuk mendirikan tenda dan kayu
bakar. Dipuncak sangat sulit mencari kayu. Kami membagi tugas disini, ada yang
membawa kayu untuk tenda, sebagian lagi membawa kayu bakar. Lumayan, buat
pengganti tracking pool. Jalan yang
akan dilalui semakin menanjak.
Batu Besar
Diawal
kita menyusuri kaki gunung, akan ketemu dengan batu besar, medan yang kita
lalui akan berganti suasana dengan bebatuan, sesekali terlihat pohon edelweis yang sedang tak
berbunga. Jumlah populasi dari edelweis sekarang jauh lebih sedikit dibanding
pendakian saya di tahun 2009 lalu. Dibatu besar ini juga terdapat tempat untuk
mendirikana tenda, namun tidak terlalu luas. Kamipun memutuskan untuk
beristirahat sejenak, sekedar membasahi tenggorokkan.Wajah-wajah kelelahan
sudah mulai melanda kami semua.
![]() |
| Beristirahat dibatu besar |
![]() |
| Jalur yang harus ditaklukkan setelah melewati batu besar |
Sepanjang
jalan menuju gua, kami bertemu dengan banyak pendaki yang berasal dari
Lhoksemawe. Kami berbincang-bincang sejenak dengan mereka. Awal nya saya heran,
Logatnya khas terdengar mereka berasal dari Medan. Ternyata, tak lama kami
ketahui mereka kebanyakan berasal dari Medan yang sedang kuliah di Lhoksemawe.
Melihat kabut yang sudah mulai turun, kamipun mendahui rombongan mereka.
Beberapa
teman kami sudah terlebih dahulu mencapai gua dan mereka sudah sempat
beristirahat disana, sedangkan saya dan Mona berada di belakang. Suara dari
teman-teman terdengar dekat. Kamipun mempercepat langkah. Namun gua yang kami
bayangkan tak kunjung terlihat. karena kaki yang sudah kelelehan, kami jadi
lebih sering berhenti diperjalanan.
“
Ayo..semangat kak Mona!” terdengar teriakan dari arah atas, rasa hati pun
senang. Akhirnya kami pun mencapai gua.
17.00 (Sampai di gua)
Gua
merupakan batu besar yang menumpu pada batu lainnya, sehingga membentuk ruang.
Disini sering juga digunakan pendaki sebagai tempat untuk menginap, karena
tidak perlu mendirikan tenda lagi. Namun resikonya ada tetesan air dari
celah-celah batu. Dari gua menuju puncak sudah tidak terlalu jauh, sehingga
beberapa pendaki ada yang memilih menginap di gua ini, kemudian melakukan Summit Attack. Dari gua menuju puncak
kita harus melalui medan yang wow…kita harus saling ranting barang. Banyak juga
pendaki yang meninggalkan barang nya disini, lalu mendaki kepuncak dengan hanya
membawa badan dan barang seperlunya. Rombongan kami memutuskan menginap di puncak,
sehingga harus berjuang membawa ransel melewati medan yang berat ini.
![]() |
| Inilah Suasana Gua yang biasa dijadikan tempat menginap |
![]() |
| Bahu menbahu menaklukkan medan |
18.00 (Menginjakkan kaki dipuncak)
Setelah
berhasil melewati medan yang sulit ini, selanjutnya medan yang kita lalui
adalah jalan bebatuan menanjak. Dengan penuh semangat, satu persatu anggota
kami mencapai puncak. Orang pertama mencapai puncak adalah Nawar dan Udin. Kami
temui mereka sudah mem-booking lokasi dan mendirikan tenda.
Berhubung tenda sudah berdiri, Kami mempersiapkan api untuk memasak air. Dan inilah
momen yang tak terlupakan menikmati secangkir kopi Gayo bersama teman-teman.
Kopi gayo akan terasa lebih nikmat bila disajikan dengan sepotong roti. Dan itulah
yang kami lakukan.
![]() |
| Tenda sudah berdiri, alangkah senangnya hati |
![]() |
| Menikmati Kopi gayo di puncak |
Hari
mulai gelap, kami menyalakan api, untuk persiapan acara bakar-bakar bebek. Yang
tak kalah menarik adalah minuman bandrek yang asli racikan anak gunung. wah…enaknya poll..Pas banget buat ngangetin badan di tengah
dinginnya suasana malam di puncak. Malam ini kami lalui dengan menikmati
makanan dan bercerita dan bercanda ria. Sembari itu kami juga menikmati hamparan
lampu bagaikan bintang bertaburan, hingga angin yang begitu menusuk tulang yang
membuat kami satu persatu masuk kedalam tenda.
![]() |
| Suasana bakaran malam hari |
Disaat
kami sedang tertidur nyenyak, suara orang yang naik kepuncak menbuat kami
terbangun. Dan kamipun keluar dari tenda dan duduk diluar tenda untuk
menantikan sunrise. Karena angin yang
bertiup sangat kencang, tenda kami sempat hampir melayang. Api kami nyalakan
sekedar untuk menghangatkan badan. Dan yang dinanti pun tiba, kami tidak
menyia-nyiakan momen ini dan segera mengambil beberapa gambar untuk
kenang-kenangan.
![]() |
| Kedinginan woy |
Hari
mulai terang, perut mulai keroncongan. Terkahir makan tadi malam. Pagi ini
giliran cewek-cewek yang masak. Inilah chef kita, chef Ema yang sedang berusaha
menyalakan api
![]() |
| Tiup..tiup dan menyala |
Urusan
perut sudah terbayarkan, dilanjutkan dengan sesi photo-photo, disini kami
sempat berfoto dengan rombongan dari Lhoksemawe, mereka turun lebih awal dari
kami. Sedangkan kami turun dari puncak jam 11.30. dan sampai dibawah sudah sore
hari.
![]() |
| Photo bersama rombongan pendaki Lhoksemawe |
![]() | |
| Mengibarkan bendera dipuncak |
![]() |
| Pemandangan perbukitanTanoh Gayo |
Sekian dulu ya ceritanya, sampai jumpa
By ; SATRIA














Tidak ada komentar:
Posting Komentar