Kamis, 26 Maret 2015

Menikmati Kopi Gayo di Gunung Burni Telong



 Guys !!!, Ini ada sedikit cerita dari kota dingin Takengon. Semoga sedikit coretan ini bisa mengobati kerinduan berpetualang bersama kalian the Bajs..

Gunung burni telong adalah salah satu gunung berapi aktif dengan ketinggian 2600 Mdpl, terletak di kabupaten Bener Meriah, Aceh. Burni Telong merupakan bahasa gayo yang arti nya gunung yang terbakar. Begitu orang menyebut gunung ini.

Perjalanan ini kami lakukan bersembilan peserta nya adalah Mona, Ema, Lulu, Firda, Udin, Putra, Nawar dan saya sendiri Satria. Awal perjalanan kami pun dimulai, dengan diantar sebuah mobil Ambulance kami berangkat menuju desa Bandar Lampahan. Biasanya membawa orang sakit, tapi kali ini membawa para pendaki. Unik kan! Tapi jangan salah, mobil ini berjasa bagi kami, kalau tidak diantar, kami membutuhkan waktu 1 jam lagi untuk mencapai pintu gerbang pendakian. disini kami harus melapor terlebih dahulu. Dan membayar biaya masuk Rp 5000/ orang. 

10.30 kami memulai pendakian sampai tiba disebuah gubuk, biasa disebut rumah mamak, disini kami melingkar dan berdoa. Berdoa selesai, kami mulai berjalan menyusuri perkebunan warga, disini tanaman nya berupa kopi dan palawija, kebetulan sekarang para petani sedang menanam kentang. Mata kami sangat dimanjakan oleh pemandangan tanaman palawija yang menghijau. Teman-teman masih semangat 45, namun Nawar dan saya sempat berada di urutan belakang karena menemani Mona yang berjalan pelan-pelan, karena kondisi tubuh yang belum beradaptasi dengan ritme perjalanan seperti ini. Nawar yang sudah paham betul jalur yang akan kami lalui menanyakan kepada Mona.”Gimana Mon! masih sanggup melanjutkan pendakian?” Mona pun menyangupi. Tas Mona pun dibawakan oleh Nawar. Pendakian kami lanjutkan sampai akhirnya kami sudah memasuki kawasan hutan.

11.20 didalam hutan medan yang kita lalui berupa jalan setapak, yang mulai agak menanjak, terkadang dapat sedikit jalan yang datar. Bonuuss kalau saya menyebutnya. Pohon-pohon besar yang menggambarkan betapa masih alami nya hutan ini. Ini harus kita jaga agar anak cucu kita bisa menikmati nya:). udara yang sejuk membuat kami tidak merasakan kelelahan yang begitu berarti. Kami pun sampai di sumber mata air dan menemui Nawar dan Udin yang sudah berjalan terlebih dahulu, mengingat banyaknya pendaki yang mendaki hari ini, kami mengutus mereka kepuncak untuk mencari spot untuk mendirikan tenda. Ada hal yang membedakan gunung ini dengan gunung lain, disini kita tidak perlu membawa air dari awal pendakian, cukup membawa jirigen kosong saja.

11.58 ( Saatnya Loading)
Semua jerigen kami isi untuk bekal di puncak, Air nya sangat jernih dan segar. Namanya juga air pegunungan kan yak..jadi saya nggak segan-segan buat minum langsung. Tapi disini belum ada petunjuk arah menuju sumber mata air. Buat pendaki yang baru pertama mendaki ke gunung ini mungkin akan kesulitan menemukannya. Ada baiknya mengajak penduduk setempat sebagai petunjuk jalan. Naah..mulai dari sini beban ransel kami semakin bertambah, pendakian semakin terasa berat. Namun semangat dari dalam diri kami yang mengalahkan segalanya. Perjalanan untuk melewati hutan kami lanjutkan. Ada hal menarik disini, kami menikmati harmoni dari satwa yang ada dari hutan ini. Mulai dari suara siamang, kicauan burung. Saling sambut-menyambut membentuk sebuah irama yang merdu.
Sumber Mata Air
13.30  (Saatnya karbo Loading)
Setelah berjalan 3 jam, perjalanan sampai dipenghujung hutan. disini kami bertemu dengan pendaki lain. Beberapa kelompok pendaki memutuskan untuk beristirahat disini, ada juga yang tetap melanjutkan pendakian. Berhubung rasa lapar mulai menghampiri kami semua. Berbekal nasi yang kami bungkus dari rumah. diputuskan untuk makan siang disini. Mari Makan!!!
Makan Siang di penghujung hutan
Dari pingiran hutan ini sudah mulai terlihat puncak gunung Burni Telong, tak jarang pendaki mendirikan tenda di sini karena tempatnya yang datar dan sangat luas. Sesuai rencana awal, kami akan mendirikan tenda dipuncak, Sebelum melanjutkan perjalanan, kami terlebih dahulu mencari kayu untuk mendirikan tenda dan kayu bakar. Dipuncak sangat sulit mencari kayu. Kami membagi tugas disini, ada yang membawa kayu untuk tenda, sebagian lagi membawa kayu bakar. Lumayan, buat pengganti tracking pool. Jalan yang akan dilalui semakin menanjak.

Batu Besar
Diawal kita menyusuri kaki gunung, akan ketemu dengan batu besar, medan yang kita lalui akan berganti suasana dengan bebatuan, sesekali  terlihat pohon edelweis yang sedang tak berbunga. Jumlah populasi dari edelweis sekarang jauh lebih sedikit dibanding pendakian saya di tahun 2009 lalu. Dibatu besar ini juga terdapat tempat untuk mendirikana tenda, namun tidak terlalu luas. Kamipun memutuskan untuk beristirahat sejenak, sekedar membasahi tenggorokkan.Wajah-wajah kelelahan sudah mulai melanda kami semua.
Beristirahat dibatu besar
Jalur yang harus ditaklukkan setelah melewati batu besar
Sepanjang jalan menuju gua, kami bertemu dengan banyak pendaki yang berasal dari Lhoksemawe. Kami berbincang-bincang sejenak dengan mereka. Awal nya saya heran, Logatnya khas terdengar mereka berasal dari Medan. Ternyata, tak lama kami ketahui mereka kebanyakan berasal dari Medan yang sedang kuliah di Lhoksemawe. Melihat kabut yang sudah mulai turun, kamipun mendahui rombongan mereka.
Beberapa teman kami sudah terlebih dahulu mencapai gua dan mereka sudah sempat beristirahat disana, sedangkan saya dan Mona berada di belakang. Suara dari teman-teman terdengar dekat. Kamipun mempercepat langkah. Namun gua yang kami bayangkan tak kunjung terlihat. karena kaki yang sudah kelelehan, kami jadi lebih sering berhenti diperjalanan.
“ Ayo..semangat kak Mona!” terdengar teriakan dari arah atas, rasa hati pun senang. Akhirnya kami pun mencapai gua.

17.00 (Sampai di gua)
Gua merupakan batu besar yang menumpu pada batu lainnya, sehingga membentuk ruang. Disini sering juga digunakan pendaki sebagai tempat untuk menginap, karena tidak perlu mendirikan tenda lagi. Namun resikonya ada tetesan air dari celah-celah batu. Dari gua menuju puncak sudah tidak terlalu jauh, sehingga beberapa pendaki ada yang memilih menginap di gua ini, kemudian melakukan Summit Attack. Dari gua menuju puncak kita harus melalui medan yang wow…kita harus saling ranting barang. Banyak juga pendaki yang meninggalkan barang nya disini, lalu mendaki kepuncak dengan hanya membawa badan dan barang seperlunya. Rombongan kami memutuskan menginap di puncak, sehingga harus berjuang membawa ransel melewati medan yang berat ini.
Inilah Suasana Gua yang biasa dijadikan tempat menginap
Bahu menbahu menaklukkan medan
18.00 (Menginjakkan kaki dipuncak)
Setelah berhasil melewati medan yang sulit ini, selanjutnya medan yang kita lalui adalah jalan bebatuan menanjak. Dengan penuh semangat, satu persatu anggota kami mencapai puncak. Orang pertama mencapai puncak adalah Nawar dan Udin. Kami temui mereka sudah  mem-booking lokasi dan mendirikan tenda. Berhubung tenda sudah berdiri, Kami mempersiapkan api untuk memasak air. Dan inilah momen yang tak terlupakan menikmati secangkir kopi Gayo bersama teman-teman. Kopi gayo akan terasa lebih nikmat bila disajikan dengan sepotong roti. Dan itulah yang kami lakukan.
Tenda sudah berdiri, alangkah senangnya hati

Menikmati Kopi gayo di puncak
Hari mulai gelap, kami menyalakan api, untuk persiapan acara bakar-bakar bebek. Yang tak kalah menarik adalah minuman bandrek yang asli racikan anak gunung. wah…enaknya poll..Pas banget buat ngangetin badan di tengah dinginnya suasana malam di puncak. Malam ini kami lalui dengan menikmati makanan dan bercerita dan bercanda ria. Sembari itu kami juga menikmati hamparan lampu bagaikan bintang bertaburan, hingga angin yang begitu menusuk tulang yang membuat kami satu persatu masuk kedalam tenda.
Suasana bakaran malam hari
Disaat kami sedang tertidur nyenyak, suara orang yang naik kepuncak menbuat kami terbangun. Dan kamipun keluar dari tenda dan duduk diluar tenda untuk menantikan sunrise. Karena angin yang bertiup sangat kencang, tenda kami sempat hampir melayang. Api kami nyalakan sekedar untuk menghangatkan badan. Dan yang dinanti pun tiba, kami tidak menyia-nyiakan momen ini dan segera mengambil beberapa gambar untuk kenang-kenangan.
Kedinginan woy
Hari mulai terang, perut mulai keroncongan. Terkahir makan tadi malam. Pagi ini giliran cewek-cewek yang masak. Inilah chef kita, chef Ema yang sedang berusaha menyalakan api
Tiup..tiup dan menyala
Urusan perut sudah terbayarkan, dilanjutkan dengan sesi photo-photo, disini kami sempat berfoto dengan rombongan dari Lhoksemawe, mereka turun lebih awal dari kami. Sedangkan kami turun dari puncak jam 11.30. dan sampai dibawah sudah sore hari.
Photo bersama rombongan pendaki Lhoksemawe
Mengibarkan bendera dipuncak
Pemandangan perbukitanTanoh Gayo
Sekian dulu ya ceritanya, sampai jumpa
By ; SATRIA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar