Bagian ini akan
ditulis oleh 2 orang, berhubung saya (@peppyepifanie) nggak ikut Summit, maka
bagian tersebut akan ditulis oleh @satria_gayo. Dan inilah bagian akhir
dokumentasi perjalanan menuju Persemayaman Para Dewa sampai akhirnya kembali ke
pelukan kasur masing-masing di Yogyakarta…
Saujana...
Summit Attack
23.00 Alarm dengan nada yang cukup nikmat sebagai pengantar tidur, akhirnya
bangunkan kami. Mencoba mengintip keluar tenda, Buseet udara dingin selimuti kalimati malam ini. Berhubung niatan
dalam hati yang begitu besar, Ingin menginjakkan kaki di puncak tertinggi pulau
Jawa. Dan persiapan pun dimulai.
Dari rombongan kita,
Ada 6 orang ranger yang mau muncak nich.
Hendra, Edo, Denit, Sindy, si Om, dan Satria. Masing-masing sudah siap dengan
jaket polar, Sepatu tracking, Sarung
tangan, Head lamp. Dan yang nggak kalah penting adalah air minum. Sedangkan Career dan barang- barang kita
tinggalkan dalam tenda di Kalimati, Mengingat medan yang dilalui berat.
23.30 Setelah semua ready, Kita membentuk lingkaran untuk berdoa sebelum memulai
perjalanan. Dan summit Attack pun dimulai. Uuuyyyeah..
![]() |
| Puncak mahameru dari kalimati |
Medan awal yang kita lalui Kalimati- Arcopodo berupa hutan
dengan kiri-kanan berupa pohon cemara dan tanah yang berdebu. Disarankan
memakai masker dan kacamata. Suhu disini memang sangat dingin, Menusuk kedalam
tulang. Tubuh masih belum begitu beradaptasi dengan suhu yang ekstrim ini, Di
awal perjalanan, Sindy sempat menanyakan “ Kok badan ku dingin banget ya! Aku
bisa melanjutkan perjalanan nggak ya?” berbekal semangat dari teman-teman dan
niatan untuk menaklukan diri sendiri, perjalanan kembali dilanjutkan.
Satu hal yang menarik, sepanjang perjalanan, kami ditemani
cahaya bulan purnama. Jadi pengunaan Head
lamp bisa di minimalisir. Jalan setapak terus kami lalui sambil terkadang
langkah kaki terhenti, Untuk sejenak menikmati keindahan yang tersaji di atas
langit. Cukup lah untuk mengobati hati yang lelah, *dungdeess
Setelah perjalanan ± 1 jam, Nggak
tau tepat nya jam berapa itu, Salah satu anggota kita mendapat panggilan alam, maklum dari Rakum belum sempat Nge-bom. Naah, berhubung kita pendaki
yang menjunjung tinggi prilaku kucing saat membuang kotoran. Jadi kita membuat
lubang sebelum Nge-bom. Patut ditiru nich!.
Pendakian dilanjutkan dengan medan yang semakin menanjak,
berkelok dan berdebu. Iringan pendaki di belakang kami semakin banyak,dan
beberapa kali kami di passing oleh
pendaki dari rombongan lain. Ketika semangat sudah mulai kendur, Selalu ada om
dengan segala keunikan nya, Berkata “ Awak
dewe kan dolan, slow lah ”.
Rasa lelah terobati ketika kami menghadap kearah barat, dan
disuguhi pemandangan kota dari ketinggian, kerlap-kerlip lampu seperti bintang
bertaburan. Sayang nya, Saat itu tidak ada dokumentasi. Yaa.. terkadang
keindahan itu tidak perlu di abadikan, cukup dinikmati saja. Kami beristirahat
sejenak disini, Sambil membasahi
tenggorokkan yang kering karena debu.
Minggu, 7 September
2014
01.00 Singkat cerita, vegetasi pohon
cemara sudah semakin sedikit. Kami sudah berada di ketinggian 2900 Mdpl.
Yeeeyy. Akhirnya sampai juga di Arcopodo. Sempat bertanya dalam hati, “mana
Arca nya?” tapi abaikan pertanyaan itu, tujuan kita bukan meneliti Arca nya.
Ini merupakan vegetasi terakhir sebelum memasuki track pasir dan berbatu.
Oke.. Sekarang kita mau Fighting dari Arcopodo - Puncak
Mahameru. Dari sini puncak sudah terlihat jelas, seperti sedang bermimpi, bisa
berada disini. Udara dingin semakain menguras energi,kami sudah kehabisan
pasokan air. Yang tersisa hanyalah semangat untuk menuntaskan pendakian ini.
Agaknya lagu ini cocok buat kita teman
Kita daki gunung dengan
hati yang teguh
Ayo kawan capai puncak
nya, Ayo
Kita daki gunung dengan
hati teguh
Ayo kawan capai puncak
nya
(Mendaki Gunung- Coklat)
Kekompakkan kelompok kami sangat terjaga, kami berjalan
beriringan, di barisan depan ada Hendra, Semangat nya masih penuh. Walaupun Head lamp sudah mulai meredup, hanya
pinjaman dari Peppy yang masih nyentrik. Sesekali sorotan dari pendaki dibawah
menyilaukan mata kami. Tetap semangat guys!!!
Setengah perjalanan, Oksigen semakin tipis, medan yang
semakin terjal. Sindy sempat terjatuh karena kelelahan. Beberapa teknik sudah
diterapkan, mulai dari berjalan dan berhenti sesaat, berjalan tiga langkah lalu
berhenti. Akhirnya Kami memutuskan untuk break.
Beberapa pendaki dari kelompok lain juga sedang beristirahat untuk sejenak
mengatur nafas. Namun, selalu ada
yang istimewa disaat kami mulai kelelahan. Bulan berbentuk lingkaran sempurna
berada sejajar dengan kami. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.
Mahameru
berikan damainya. (Dewa 19- Mahameru)
Diperjalanan nyali kami menciut ketika sesekali terdengar
teriakan “Awas batu”, yang langsung dilakukan adalah melihat kearah datang nya
batu, memastikan kalau batunya berhenti
tergelincir. kemudian waspada dan
saling mengingatkan untuk tidak menginjak batu, Agar tidak membahayakan pendaki
lainnya.
Oke guys, dalam perjalan summit Attack ini musuh terbesar
selain diri sendiri adalah angin. Kini giliran si om yang mulai merasa
kedinginan, dia yang berada di belakang saya dan sindy, tiba- tiba mendekat dan
berkata “ Sin, Aku udah kedinginan. Tak tunggu diatas ya. Nanti tak sambut
kalian” kurang lebih kalimat nya begitu, persis nya saya lupa. Si om
mempercepat langkah nya. Dalam keadaan seperti ini, hanya diri kita lah yang
paling mengerti keadaan dan kapasitas kita. Maka keputusan yang diambil harus
benar- benar tepat. Sedang di atas terlihat Edo, Denit, Hendra yang sedang
berjuang dengan sisa tenaga.
“Bang break” teriak Sindy, melihat kondisi fisik yang sudah
sangat lemah, Kami memutuskan beristirahat di lereng bekas aliran lahar,
setidaknya sedikit terlindung dari hembusan angin. Disana ada seorang mbak-mbak
yang sedang duduk beristirahat sambil tertidur. Mungkin teman-teman nya sudah
naik duluan. Kami beristirahat 10 menit,
Edo sempat tertidur dan ngergaji bosss.
Khawatir jika berhenti terlalu lama suhu tubuh semakin menurun, saya mengajak
teman-teman melanjutkan pendakian, dan membangunkan Edo yang sempat tertidur. *
tidak disaran kan tidur saat pendakian, karena saat tidak sadar suhu tubuh kita
menurun. Pendakian pun kami lanjutkan.
Kini puncak Mahameru sudah semakin dekat, bukan lagi mitos
kalau puncak abadi para Dewa itu ada, kami sudah melihat wujudnya dari
kejauhan.
04.30 Kalau dilihat dari total perjalanan,
kami sudah menempuh ¾ perjalanan. Kami menemukan Om yang sudah kedingin dengan
kondisi badan mengigil, dengan sebatang rokok di tangan nya. Si Om menanyakan “
apakah masih ada air?” kami sudah kehabisan air. Om memutuskan untuk turun,
saat itu kondisi fisik kami sudah benar-benar droop. Kami memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan,
namun kejam nya suhu menju puncak menuntut kami untuk mengambil keputusan
dengan cepat dan tepat. Kami memegang prinsip, “Turun satu, turun semua. Muncak
satu, muncak semua”. Dan kami memutuskan untuk turun semua. Kami memiliki
harapan suatu saat kami akan menginjakkan kaki di puncak Mahameru.
Sambil dadah- dadah
sama Mahameru, Rombongan turun kami bagi beberapa kloter, Om yang sudah kedinginan
ditemani Edo, Sindy bersama saya dan di belakang Hendra bersama Denit. Saat
turun kami harus hati hati, karena dari arah bawah masih banyak pendaki yang
sedang naik.
| Perjalanan turun dari Mahameru |
05.00 Dari arah timur garis orange membentang panjang, pertanda
matahari akan mebuka pintu nya. Walaupun tidak bisa menikmati sunrise di puncak, kami tidak melewatkan
momen indah ini. Terima kasih Tuhan atas lukisan indah pagi ini. Cukup untuk
mengembalikan energy kami yang telah terkuras.
![]() |
| Garis orange pertanda matahari akan membuka matanya |
![]() |
| Matahari bersiap menghangatkan kami yang kedinginan |
![]() |
| Berkat sinar matahari, kami sudah bisa tersenyum, terima kasih matahari! |
Setelah
semua selesai (istirahat dan foto-foto) kami melanjutkan perjalanan turun. Di
perjalanan kami bertemu dengan rombongan pendaki yang sedang beristirahat
dengan seorang penduduk setempat yang kami kira adalah porter. saya bersama
Sindy berniat ingin meminta air minum. Bapak itu justru menawarkan kami
gorengan dan minuman, Wedyan, bapak
itu ternyata pedagang yang hendak membawa dagangan nya ke puncak. Perbincangan
hangat pun terjadi antara kami, pedagang, dan satu rombongan mas-mas dan
mbak-mbak yang turun karena anggota nya ada yang sudah muntah tiga kali. Energi
kami sudah pulih, berkat asupan gorengan dari bapak pedagangnya. dan kami
melanjutkan perjalanan turun menuju kalimati.
Sekian
cerita Summit Attack kami, Semoga Masih diberi kesempatan mencumbui
pasirnya.#Mahameru.
Kembali ke Kalimati
06.15 Sebenarnya saya
sudah terjaga semenjak pukul 05.30, tapi sungguh dingin yang menyelimuti dan
tenda yang saya kuasai sendiri, membuat saya betah meringkuk di Sleeping Bag.
Niat untuk membangunkan Adi dan mengajaknya memasak untuk menyambut teman-teman
saya urungkan. Toh paling mereka masih lama. Tapi tiba-tiba terdengar suara
cempreng si om “Enggak sampai puncak pak, airnya habis, tinggal sepertiganya
padahal” Sontak saya langsung terbangun dan membuka tenda. Berdua, Edo dan Si
om sampai di tenda dengan kelelahan. Menanyakan kabar teman yang lainnya,
sempat saya merasa khawatir. Semoga mereka baik-baik saja. Tanpa berlama-lama
saya langsung mengajak si om yang kelelahan untuk menyalakan kompor dan memasak
nasi.
Pagi itu menu kami
adalah Orak-arik buncis dan wortel… yeaayy,,, sayang ga sempet di
dokumentasikan.
07.00 Saya masih
sibuk memotong-motong wortel dan buncis, akhirnya terdengar suara shindy, yang
ceria. Puji Tuhan. Melihat sang pakar nasi bernama sep *bukan chef* Satria
datang, saya pun memintanya mengecek nasi yang kami tanak. Alhamdullilah, nasi
matang dengan baik, ga kaya malam sebelumnya ahahay…
Pagi yang cerah itu,
tidak akan kami lewatkan tanpa… foto-foto!!!!
09.00
adalah
jam makan pagi bagi mereka yang ingin makan. Sebelumnya saya sudah menenggak
beberapa minuman sachet, dan berhubung belum setor, sarapan pun saya pending.
Dan sungguh keputusan ini sangat tidak disarankan.
11.00
kami
rapat sebentar untuk menentukan langkah kepulangan kami ke Jogja. Dan
sepertinya mengejar kereta sudah tidak mungkin dilakukan, perjalanan darat
dengan bus pun menjadi pilihan satu-satunya.
11.40
Tenda
sudah terlipat, carrier sudah dipunggung, doa sudah dipanjatkan, foto pun sudah
diambil tibalah saatnya untuk berkata…
Sampai Jumpa Mahameru!!!
Sampai Jumpa Mahameru!!!
12.04
Setelah
menuruni jalanan berpasir yang aduhai debunya, akibat kami menuruninya sambil
berlari, sampailah kami di Jambangan. Kami berjumpa dengan rombongan dari
peserta kursus Kampung Inggris Pare, salah satu diantara mereka ternyata
berasal dari Sleman. Mbak Restu namanya, dengan wajah manis, dan suara yang
ngebass menjadi sebuah pribadi unik yang langsung di bribik sama
jomblo-ngenes-susah-move-on bernama Yoanez Delasele blablabla *maaf nama
terlalu panjang*. Setelah percakapan menyenangkan dengan beberapa rombongan
pendaki, perjalanan pun berlanjut.
14.10
Cemoro
Kandang. Disini kamu beristirahat cukup lama. Menikmati indahnya Oro-oro Ombo
yang dibingkai langit biru aahhh… take me there again!!!
16.00
Ranu
Kumbolo menjadi penyegar bagi kami sore itu. Membasuh tangan, kaki dan muka,
menikmati segarnya Ranu Kumbolo untuk yang terakhir kali ini. Andaikan boleh
nyemplung, tapi jangan ya gais, nanti bisa digebukin sama orang se-Indonesia
raya merdeka!
![]() |
| Terima Kasih Ranu Kumbolo |
Disini, seorang kawan
kami mendapat pelajaran berharga mengenai persiapan. Jika kamu adalah mahasiswa
aktif, perokok aktif, namun dompet tak selalu aktif. Usahakan ketika mendaki
gunung persiapan kepulan asapmu sebanding dengan jumlah hari yang akan kamu
habiskan di gunung. Karena, jika tidak, percayalah, kamu tiba-tiba akan menjadi
seorang perokok aktif yang dermawan. Bukan main-main, setiap rupiah yang kamu
keluarkan untuk menukarnya dengan barang apapun, include tenaga yng harus
dikeluarkan oleh penjualnya. Termasuk dengan cacahan dan yang dibakar ini,
harganya meningkat 2x lipat dari harga aslinya. Selamat!! Tapi jika kamu
berjiwa sosial seperti teman kami ini, maka kamu akan merelakan uang kamu untuk
mendapatkan kehangatan.
16.30
Sampai
jumpa Ranu Kumbolo!
Aku hanya pergi tuk
sementara, bukan tuk meninggalkanmu selamanya, aku pasti kembali untuk dirimu…
entah kapan….tapi aku pasti kembali (lupa siapa penyanyinya)
Tanjakan (yang dua
malam sebelumnya adalah turunan mematikan bagi saya) merupakan kembaran yang
agak manusiawi dari tanjakan cinta, medan yang berpasir, berkali-kali harus
dibasuh dengan memandang rindu ke arah Ranu Kumbolo.
22.30
Break!!!
Makan malam yang sangat terlambat di Pos II, kami semakin lemah, saya yang
kelaparan, si om yang mulai merasakan tulangnya tak lagi muda, dan kelelahan
yang dahsyat. Logistik pun dikeluarkan, yang tersisa hanyalah mie instan, dan
beberapa minuman sachet. Api unggun dinyalakan, kompor mulai beraksi. Beberapa
menit kemudian, mie instan sudah tersedia, ditambah dengan minuman penghangat
oplosan, mulai dari energen, jahe wangi, dan sekoteng bercampur menjadi satu.
Bodo amat yang penting kenyang dan anget.
Selarut itu, kami
berjumpa dengan seorang mas dan seorang mbak. Hanya daypack H2O yang ada di
depan dada mereka, dengan selang menggantung. Mereka pun mampir di Pos II.
Menarik, ternyata mereka yang berasal dari Tangerang, baru saja mengikuti Bromo
Marathon, dan menyempatkan diri untuk “mampir” ke Semeru, mumpung kata mereka.
Rombongan mereka ternyata ada yang masih tertinggal di Pos I. “anaknya temen
lagi tidur soalnya” statement tersebut langsung menarik perhatian kami. Anak?
Usia berapa? “lima tahun, cewek” apaaa!!!! Lima Tahun, selarut ini harus
mendaki Semeru?? “tapi kecil-kecil track record-nya udah bagus dia, udah pernah
dibawa ke Kerinci sama Rinjani” mendengar hal tersebut kami hanya menganga,
“Ampuuunn deekk” kata si om.
Perjalanan tinggal
sebentar lagi, menuju ke tempat pertemuan kami dengan Mahendra kecil yang unik.
Kali ini kami berharap-harap cemas berjumpa dengan si adik kecil yang sedang
tidur di Pos I.
Jalur Pos I-Pos II
dan sebaliknya, menjadi jalur yang tak terlupakan bagi kami. Keberangkatan kami
disambut dengan Mahendra kecil, dan Kepulangan kami berpapasan dengan Si cici…
entah itu namanya, atau sebutannya, atau malah sebutan ibunya. Namun nama
itulah yang keluar dari mulut mas-mas di Pos II tadi.
Alkisah Si cici kecil ini, memiliki wajah yang lucu khas anak kecil,
dengan ekspresi bangun tidur, berjalan dengan ringan sambil mengusap-usapkan
tangannya yang dibalut sarung tangan. Mungil sekali, di depannya ibunya
menggendong carrier, begitu juga dibelakangnya, ayahnya yang lumayan ganteng *untuk yang terakhir, subjektif boleh ya* menggendong carrier dengan kapasitas sekitar 80 liter . Gemaassssss…… *sama si cici loh, bukan bapaknya*
Dan bisa diprediksi
angan kami masing-masing adalah, suatu hari akan melakukan pendakian bersama
keluarga kecil. Dasar Jomblo! *loh
23.55
waktu jam di pergelangan tangan saya, dan tibalah kami di pintu gerbang
pendakian di Ranu Pani. Dengan sisa-sisa tenaga, kami berjalan berderap di
aspal yang menanjak. Langit diatas sana berawan, bulan bersinar dengan terang
menemani langkah kami menuju tempat peristirahatan. Kaki mulai berat untuk
melangkah.
Tenda didirikan
diantara dinding dan bangunan Information Centre. Sebelum tidur, saya, Denit,
Satria, dan Adi hendak mengisi perut di warung terdekat. Namun ternyata,
tutup.. aahhh,,, ya sudahlah, tiduur sajaaaa...
Senin,
8 September 2014
06.15
Ranu
Pani pagi hari. Terbangun dari tidur lelap kami, setelah puas bersautan gergaji
alami dari nafas masing-masing. Air di toilet umum siap menyambut kami.
Menyegarkan dengan dinginnya yang membekukan syaraf. Setidaknya kami sedikit
bersih. Setidaknya kami tidak akan membuat pingsan penumpang lain di kendaraan
umum nanti. Setidaknya kami tidak terlalu terlihat sebagai “rombongan terasi”. Ahh
bukankan terasi itu nikmat?? Oke, lupakan.
| Tenda kami di Ranu Pani, siap untuk dibongkar |
09.00
Terimakasih
atas malam terakhir, terima kasih atas air yang menyegarkan, terima kasih atas
sarapan, pengisian baterai hape, dan souvenirnya. Sampai jumpa lagi Ranu Pani.
Jeep yang
mengantarkan kami, bertambah 2 orang mas-mas yang juga hendak menuju Tumpang.
Jeep tertutup yang full musik dangdut diisi oleh 12 orang kami bertujuh, bapak
sopir yang ganteng, dan kakaknya duduk di kap depan. 3 orang berada di atap
adalah Satria dan dua mas-mas tersebut. Seperti sedang menaiki roller coaster
dengan pemandangan alam, mereka harus waspada dengan daun-daun beserta ranting
dan juga gapura selamat datang. Sedangkan kami yang di dalam, awalnya asik
berdendang musik dangdut yang diputar, setelah 20 menit hanya terdiam, ngantuk
dan mual. Akhirnya Edo pun menyerah, kami break sejenak menikmati pemadangan
alam, dan memulihkan kondisi mas Edo yang lemas.
![]() |
| Penumpang atas Jeep, Hai Bang Sat!!! |
10.00-14.00
beralih
dari Jeep ke angkot putih, kami meninggalkan Tumpang menuju Terminal Arjosari
Malang. Setelah sebelumnya kami mengembalikan peralatan yang kami sewa, pak
sopir yang baik, menunjukkan tempat makan murah meriah dengan porsi
amat-sangat-banyak-sekali.
![]() |
| Teminal Arjosari Malang |
14.55
Perut
kenyang, tenaga terisi. Dengan tiket seharga Rp 25.000,- bus Dana Dhasih
jurusan Malang-Surabaya mengantarkan kami. Semeru di kejauhan mengantarkan
kami, didampingi oleh Gunung Arjuno yang runcing mereka berdiri dengan gagah
menjaga Malang dan sekitarnya. “Sampai jumpa lagi Semeru” bisik saya dalam hati.
16.30
baru
30 menit saya terlelap, Shindy membangunkan, dan tampak bus sudah memasuki
Terminal Purabaya, atau dikenal juga dengan Bungurasih. Kami yang terlelap
sepanjang perjalanan, menuruni bus dengan muka bantal, dan tampang kebingungan.
Nyawa belum terkumpul sepenuhnya. Dan seperti yang dulu-dulu, toilet atau di
Surabaya disebut Ponten, menjadi tujuan awal kami sebelum melanjutkan
perjalanan.
17.51
Bis
Patas Eka, sudah siap mengantar kami menuju Jogja!!!
| Siap Melaju dengan Bus Patas EKA |
00.00
Akhirnya,
Jogja yang Berhati Nyaman.
EPILOG
Whatever happened in
Semeru, Stay in Semeru (Adi, 2014). Kenangan, memori, cerita, apapun itu yang
pernah kita jalani bersama, tiada kata yang bisa diucapkan selain terima kasih
telah menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan, yang saling mengerti,
saling memahami. Terima kasih kepada semesta yang mengijinkan kami mencumbuinya, bercengkrama dengannya, perjumpaan hangat dengan orang-orang baru. Kita telah membuktikan negeri ini
perlu untuk dijaga, dari setiap penjajahan yang dilakukan baik bangsa lain
maupun bangsa sendiri.
Seperti Soundtrack pendakian ini, Terlatih Patah Hati- The rain feat. Endank Soekamti, kami pastikan kami adalah pemuda-pemuda kuat yang bertanggung jawab pada diri sendiri maupun orang lain. Semoga masing-masing dari kami membawa pulang pemaknaan pribadi.
Bersama teman, mengasah pribadi, mengukir cinta - Semeru, 5-8 September 2014
![]() |
| Salam Cinta dari Semeru |
Terimakasih Semesta…
@satria_gayo
@peppyepifanie









Tidak ada komentar:
Posting Komentar