Bersama kawan, merajut
cerita, kenangan, dan asa...
Inilah kami Satria,
Denit, Edo, Yoyo alias Si Om, Hendra, Adi, Peppy, dan Shindy. Berdelapan mencoba
untuk bercengkrama dan bersahabat dengan gunung tertinggi di pulau Jawa, Gunung
Semeru, ketinggian 3676 mdpl.
Kamis, 4 September 2014
Pertemuan kami di
Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, dijadwalkan pukul 19.00, mengingat
keberangkatan kereta yang dijadwalkan adalah pukul 19.23 Senyum lebar menghiasi
bibir kami, dengan carrier menggantung dipunggung, pukul 19.20 kamu mulai
memasuki peron. Dan… seperti sudah bisa ditebak, pengumuman keterlambatan
kereta pun terdengar. Bagaikan pasukan kura-kura ninja, kami menuju bangku
panjang di ruang tunggu.
20.15
kereta yang akan membawa kami pun memasuki Jalur 2 Stasiun Lempuyangan.
Bergegas kami menuju ke Gerbong 7, berjejalan dengan penumpang lain yang hendak
masuk. Dengan tiket seharga Rp 55.000,- kami akan melakukan perjalanan Jogja-Surabaya.
Semoga sampai dengan selamat. Amin!
20.25
Gaya
Baru Malam siap mengantarkan kami menuju ke Stasiun Gubeng Surabaya. 8 orang
muda dalam satu gerbong, dengan semangat yang masih penuh, bisa ditebak menjadi
biang keributan di dalam gerbong. Ya maklum…. :p
![]() |
| Gaya Baru Malam, Tujuan Akhir Surabaya Gubeng, Gerbong 7 |
Jumat,
5 September 2014
Lima jam perjalanan
dengan kereta berhasil kami lewati dengan berisik dan tidur hahaha…
01.30
Ucapkan
sampai jumpa dan terima kasih pada Gaya Baru Malam. Akhirnya kami sampai di
Stasiun Gubeng,, yeeyyy,,,, tujuan pertama setelah menjejakkan kaki di stasiun,
tidak lain dan tidak bukan adalah…. Toilet! Setelah selesai menuntaskan urusan
alam masing-masing, kami berjalan mencari spot ternyaman untuk mengistirahatkan
badan sembari menunggu kereta yang akan membawa kami menuju Malang.
| Ngemper di depan Stasiun Gubeng Lama nunggu loket dibuka |
04.00
Setelah
berpindah-pindah tempat menunggu, akhirnya loket pun dibuka, 8 tiket kereta
Penataran Dhoho seharga @Rp 5.500,- jurusan Sta. Gubeng-Sta. Malang Kota Baru
sudah ditangan. Setelah dadah-dadah dengan toilet Stasiun Gubeng, Penataran
Dhoho membawa kami menuju Stasiun Malang pada pukul 04.35.
Kali ini kami
menikmati sunrise dari balik kaca jendela. Kabut yang masih cukup tebal disisi
barat dan cahaya matahari disisi timur, menambah ke-eksotis-an pagi itu. Melihat beberapa
teman dan penumpang lain terlelap, tak menyurutkan semangat kami untuk
bercengkrama membuat keributan di kereta. Pagi itu terlalu hangat untuk
dilewatkan :)
07.34
Akhirnya
sampai juga di Stasiun Malang Kota Baru. Seperti yang sudah-sudah, tujuan
pertama adalah Toilet. Teman kami Denit, beberapa kali sudah menerima Telepon
dari Pak Bandi, supir angkot yang kami sewa untuk menuju Tumpang. Sembari
menunggu giliran untuk menuntaskan panggilan pagi hari, saya dan Satria mulai
mencari informasi untuk tiket kepulangan kami. Kereta menuju Surabaya paling
pagi pukul 6, setelahnya pukul 12.00, jelas tidak mungkin bagi kami untuk naik
kereta menuju Jogja. Beberapa kemungkinan kami pikirkan, namun, nampaknya otak
kami terlalu lapar untuk memikirkan hal tersebut. dan diputuskan sarapan dulu….
:p
![]() |
| Stasiun Malang Kota Baru pukul 07.34 (Model : Si Om dan Hendra, Photo Taken by @peppyepifanie) |
Setelah menemui Pak
Bandi, beliau mengantarkan kami menuju ke persewaan outdoor equipment di jalan
Ciliwung, Malang. Ciliwung Camp
tempat kami menyewa tenda dengan kapasitas 6-8 orang, sebuah tracking pole, dan
sebuah head lamp. Dengan harga yang cukup bersahabat bonus mas-mas
penyegar mata dipagi hari *eh* kami melenggang dengan peralatan sewaan.
Perjalanan dengan angkot warna biru menuju Tumpang pun dimulai…
09.13
Di
tengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk karbo loading, di warung pecel.
Warung kecil dengan menu makanan antara lain Nasi Pecel, Nasi empok (nasi+jagung),
dan nasi rames harga yang ditawarkan membuat kami berasa di Jogja, alias, murah
coyy…. Nama warungnya, em kalo nggak salah Pecel Madiun, kalo salah ya maap… :p
Setelah kenyang, setelah Hendra selesai ditelpon bapaknya, dan tentunya sudah
bayar, kami melanjutkan perjalanan menuju…. Tumpang!!
| This is it!!! Nasi Rames. mengenyangkan untuk karbo loading pagi hari |
10.00
Setelah
perjumpaan mesra dengan bapak-bapak jeep yang lumayan ganteng *subjektif yo
ben, penulis bebas* kami pun menuju basecamp di Tumpang, cowok-cowok ngurus
ijin pendakian, cewek-cewek belanja ransum.
11.01
Setelah
semua siap, semua selesai (perijinan, belanja dan foto-foto) perjalanan seru
dan terombang-ambing diatas jeep dimulai….
| Take off dari Tumpang |
| BROMO!!!!! |
12.30
akhirnya
setelah pemandangan pembuka sepanjang
jalan yang semakin memacu adrenalin, sampailah kami di desa RANU PANI!!!!
YEAAAAHHHH *guling-guling di danau* Berbagai macam persiapan mulai dilakukan,
Satria, Denit, dan Si om mengurus perijinan, dicek tas dan segala macamnya.
Logistik dibagi rata di setiap carrier. Tenda kapasitas 6-8 yang kami sewa dan
kapasitas 3 orang yang kami bawa sebelumnya, dipercayakan kepada Yoanez
Delasele blablabla *jenenge dowo males nulise* dan dialah sang pembawa tenda
*tepuk tangan sodara-sodara*
13.10
Perjalanan
pun dimulai, diawali dengan doa agar selamat dan selalu waspada. Ranu Pani –
Ranu Kumbolo menjadi tujuan akhir kami hari ini. Singkat cerita saat hendak mulai
berjalan, berjumpa dengan mas-mas bule, komunikasi yang (tampak) lancar pun
terjalin akrab, padahal jika ditilik lebih jauh, dia ngomong apaa kami bahas
apa, ya sudahlah, bukankah masih ada bahasa isyarat dan bahasa cinta yang
akhirnya menjadi isyarat cinta *oke nglantur, lanjooott….. selain jumpa dengan
mas bule, di pintu gerbang awal pendakian, kami berjumpa dengan sekumpulan
arek-arek Suroboyo yang sedang membasuh diri di air yang mengucur dari paralon
kecil. Mereka yang sudah turun, mewariskan tongkat bagi kami, lumayaann...
perjalanan selanjutnya selalu berpapasan dengan beberapa mas dan mbak yang baru
saja turun. Ahh,,,, kami baru mulai mereka sudah tampak lelah-lelah-puas
*halah*
Perjalanan awal
terasa begitu melelahkan, medan yang cukup menanjak unyu dan kaki yang belum
terlatih, beberapa dari kami adalah pendaki pemula nekat. Adi, salah satu teman
kami, memutuskan untuk mengganti sepatu gunung pinjamannya dengan sandal
jepit!! *oke ini tidak disarankan ya gais, sepatu lebih nyaman selama itu gak
bikin lecet parah sih, jadi hati-hati memilih sepatu*
| Ranu Pani |
POS
I
15.30
Medan
awal yang cukup menanjak, penyesuaian kaki, tapi semangat masih penuh. Sampailah
kami di Pos I, disambut dengan mas-mas teman seperjalanan kami dari kelompok
lain. Mas-mas berkaca mata hitam yang selalu meneriakkan “SEMANGAT” dengan
lantang, menyambut kami dengan menawarkan SEMANGKA! Tawaran mas-mas lucu
tersebut langsung disambut hangat oleh Shindy. Perkiraan kami, si mas-mas membawa
sendiri semangkanya, ternyata, seorang bapak paruh baya sudah siap dengan
nampan penuh berisi semangka, “mari mbak mas, semangkanya Rp 5000,- dapat 2”
dhuaaarrr!!! Ternyata ada yang jual… cerita menarik di Pos I bukan tentang
semangka, melainkan tentang seorang anak kecil bernama Mahendra… (cerita berikut sedikit subjektif, maklum curhat)
Mahendra, berusia
sekitar 2-3 tahun, tubuhnya yang kecil, hampir setinggi paha saya. Baru saja
saya tiba di Pos I, tiba-tiba saya merasa ada tangan kecil dan dingin menyentuh
betis. Kaget, lalu senang melihat ada makhluk kecil mendekat. Setelah meletakkan
carrier, saya dekati di Mahendra kecil, mukanya belepotan tanah bercampur
ingus, terlihat sangat kotor dan menyedihkan. Kalau saja matanya tidak bersinar
dan senyumnya yang manis tidak mengembang, rasa kasian sudah menjalari hati
saya. Tapi ada sesuatu yang lain, yang membuat saya tertarik pada laki-laki kecil
itu, caranya mendekati tapi menolak ajakan gendongan saya, membuat saya
penasaran, bahkan sampai sekarang. Teringat ada permen di tas kecil, saya
keluarkan, sambil sebelumnya meminta ijin pada sang ibu, siapa tau Mahendra
kecil tidak boleh makan permen. Tangan kecilnya menerima permen dari tangan
saya. Setelah itu, dia justru lengket pada Satria, dengan entengnya Satria berhasil
mengajak Mahendra kecil untuk bermain dan bahkan digendong! Seperti pertunjukan
kecil yang mengharukan, Tingkah Satria dan Mahendra kecil, menarik perhatian
bapak-bapak yang langsung mengarahkan kamera pada mereka. Sependapat dengan Pak
Agung, laki-laki usia 40-an yang berasal dari Jember tersebut, saya langsung
mengarahkan kamera hp dan pocket pada mereka. Moment membahagiakan… Sayangnya,
Mahendra kecil harus segera pulang bersama kakak dan ibunya. Semoga dia dan
keluarganya bahagia… Semoga dia tumbuh menjadi pemuda harapan bangsa.
![]() |
| Angel's Eyes does exist. Mahendra kecil, menyulap lelah dengan pancaran sinar matanya |
![]() |
| Bukan bapak-anak melainkan laki-laki dewasa yang menemukan masa kecilnya pada Mahendra |
![]() |
| Sampai jumpa Mahendra, terima kasih sudah menculik hati saya dalam sekejap |
Cerita tentang
Mahendra kecil, menjadi penutup catatan perjalanan di Pos I, dan juga part I,
bukan apa-apa, ngantuk ndaaaaa…
Lanjut besok lagi yaah sekian dulu dari saya
@peppyepifanie





Tidak ada komentar:
Posting Komentar