Kamis, 11 September 2014

Persemayaman Para Dewa - Part I

Bersama kawan, merajut cerita, kenangan, dan asa...
Inilah kami Satria, Denit, Edo, Yoyo alias Si Om, Hendra, Adi, Peppy, dan Shindy. Berdelapan mencoba untuk bercengkrama dan bersahabat dengan gunung tertinggi di pulau Jawa, Gunung Semeru, ketinggian 3676 mdpl.

Kamis, 4 September 2014

Pertemuan kami di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, dijadwalkan pukul 19.00, mengingat keberangkatan kereta yang dijadwalkan adalah pukul 19.23 Senyum lebar menghiasi bibir kami, dengan carrier menggantung dipunggung, pukul 19.20 kamu mulai memasuki peron. Dan… seperti sudah bisa ditebak, pengumuman keterlambatan kereta pun terdengar. Bagaikan pasukan kura-kura ninja, kami menuju bangku panjang di ruang tunggu.

20.15 kereta yang akan membawa kami pun memasuki Jalur 2 Stasiun Lempuyangan. Bergegas kami menuju ke Gerbong 7, berjejalan dengan penumpang lain yang hendak masuk. Dengan tiket seharga Rp 55.000,-  kami akan melakukan perjalanan Jogja-Surabaya. Semoga sampai dengan selamat. Amin!

20.25 Gaya Baru Malam siap mengantarkan kami menuju ke Stasiun Gubeng Surabaya. 8 orang muda dalam satu gerbong, dengan semangat yang masih penuh, bisa ditebak menjadi biang keributan di dalam gerbong. Ya maklum…. :p

Gaya Baru Malam, Tujuan Akhir Surabaya Gubeng, Gerbong 7


Jumat, 5 September 2014
Lima jam perjalanan dengan kereta berhasil kami lewati dengan berisik dan tidur hahaha…

01.30 Ucapkan sampai jumpa dan terima kasih pada Gaya Baru Malam. Akhirnya kami sampai di Stasiun Gubeng,, yeeyyy,,,, tujuan pertama setelah menjejakkan kaki di stasiun, tidak lain dan tidak bukan adalah…. Toilet! Setelah selesai menuntaskan urusan alam masing-masing, kami berjalan mencari spot ternyaman untuk mengistirahatkan badan sembari menunggu kereta yang akan membawa kami menuju Malang.

Ngemper di depan Stasiun Gubeng Lama nunggu loket dibuka

04.00 Setelah berpindah-pindah tempat menunggu, akhirnya loket pun dibuka, 8 tiket kereta Penataran Dhoho seharga @Rp 5.500,- jurusan Sta. Gubeng-Sta. Malang Kota Baru sudah ditangan. Setelah dadah-dadah dengan toilet Stasiun Gubeng, Penataran Dhoho membawa kami menuju Stasiun Malang pada pukul 04.35. 
Kali ini kami menikmati sunrise dari balik kaca jendela. Kabut yang masih cukup tebal disisi barat dan cahaya matahari disisi timur, menambah ke-eksotis-an pagi itu. Melihat beberapa teman dan penumpang lain terlelap, tak menyurutkan semangat kami untuk bercengkrama membuat keributan di kereta. Pagi itu terlalu hangat untuk dilewatkan :)

07.34 Akhirnya sampai juga di Stasiun Malang Kota Baru. Seperti yang sudah-sudah, tujuan pertama adalah Toilet. Teman kami Denit, beberapa kali sudah menerima Telepon dari Pak Bandi, supir angkot yang kami sewa untuk menuju Tumpang. Sembari menunggu giliran untuk menuntaskan panggilan pagi hari, saya dan Satria mulai mencari informasi untuk tiket kepulangan kami. Kereta menuju Surabaya paling pagi pukul 6, setelahnya pukul 12.00, jelas tidak mungkin bagi kami untuk naik kereta menuju Jogja. Beberapa kemungkinan kami pikirkan, namun, nampaknya otak kami terlalu lapar untuk memikirkan hal tersebut. dan diputuskan sarapan dulu…. :p

Stasiun Malang Kota Baru pukul 07.34
(Model : Si Om dan Hendra, Photo Taken by @peppyepifanie) 

Setelah menemui Pak Bandi, beliau mengantarkan kami menuju ke persewaan outdoor equipment di jalan Ciliwung, Malang. Ciliwung Camp tempat kami menyewa tenda dengan kapasitas 6-8 orang, sebuah tracking pole, dan sebuah head lamp. Dengan harga yang cukup bersahabat bonus mas-mas penyegar mata dipagi hari *eh* kami melenggang dengan peralatan sewaan. Perjalanan dengan angkot warna biru menuju Tumpang pun dimulai…

09.13 Di tengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk karbo loading, di warung pecel. Warung kecil dengan menu makanan antara lain Nasi Pecel, Nasi empok (nasi+jagung), dan nasi rames harga yang ditawarkan membuat kami berasa di Jogja, alias, murah coyy…. Nama warungnya, em kalo nggak salah Pecel Madiun, kalo salah ya maap… :p Setelah kenyang, setelah Hendra selesai ditelpon bapaknya, dan tentunya sudah bayar, kami melanjutkan perjalanan menuju…. Tumpang!!

This is it!!! Nasi Rames. mengenyangkan untuk karbo loading pagi hari

10.00 Setelah perjumpaan mesra dengan bapak-bapak jeep yang lumayan ganteng *subjektif yo ben, penulis bebas* kami pun menuju basecamp di Tumpang, cowok-cowok ngurus ijin pendakian, cewek-cewek belanja ransum.

11.01 Setelah semua siap, semua selesai (perijinan, belanja dan foto-foto) perjalanan seru dan terombang-ambing diatas jeep dimulai….

Take off dari Tumpang

BROMO!!!!!


12.30 akhirnya setelah pemandangan pembuka sepanjang jalan yang semakin memacu adrenalin, sampailah kami di desa RANU PANI!!!! YEAAAAHHHH *guling-guling di danau* Berbagai macam persiapan mulai dilakukan, Satria, Denit, dan Si om mengurus perijinan, dicek tas dan segala macamnya. Logistik dibagi rata di setiap carrier. Tenda kapasitas 6-8 yang kami sewa dan kapasitas 3 orang yang kami bawa sebelumnya, dipercayakan kepada Yoanez Delasele blablabla *jenenge dowo males nulise* dan dialah sang pembawa tenda *tepuk tangan sodara-sodara*

13.10 Perjalanan pun dimulai, diawali dengan doa agar selamat dan selalu waspada. Ranu Pani – Ranu Kumbolo menjadi tujuan akhir kami hari ini. Singkat cerita saat hendak mulai berjalan, berjumpa dengan mas-mas bule, komunikasi yang (tampak) lancar pun terjalin akrab, padahal jika ditilik lebih jauh, dia ngomong apaa kami bahas apa, ya sudahlah, bukankah masih ada bahasa isyarat dan bahasa cinta yang akhirnya menjadi isyarat cinta *oke nglantur, lanjooott….. selain jumpa dengan mas bule, di pintu gerbang awal pendakian, kami berjumpa dengan sekumpulan arek-arek Suroboyo yang sedang membasuh diri di air yang mengucur dari paralon kecil. Mereka yang sudah turun, mewariskan tongkat bagi kami, lumayaann... perjalanan selanjutnya selalu berpapasan dengan beberapa mas dan mbak yang baru saja turun. Ahh,,,, kami baru mulai mereka sudah tampak lelah-lelah-puas *halah*

Perjalanan awal terasa begitu melelahkan, medan yang cukup menanjak unyu dan kaki yang belum terlatih, beberapa dari kami adalah pendaki pemula nekat. Adi, salah satu teman kami, memutuskan untuk mengganti sepatu gunung pinjamannya dengan sandal jepit!! *oke ini tidak disarankan ya gais, sepatu lebih nyaman selama itu gak bikin lecet parah sih, jadi hati-hati memilih sepatu*

Ranu Pani


POS I
15.30 Medan awal yang cukup menanjak, penyesuaian kaki, tapi semangat masih penuh. Sampailah kami di Pos I, disambut dengan mas-mas teman seperjalanan kami dari kelompok lain. Mas-mas berkaca mata hitam yang selalu meneriakkan “SEMANGAT” dengan lantang, menyambut kami dengan menawarkan SEMANGKA! Tawaran mas-mas lucu tersebut langsung disambut hangat oleh Shindy. Perkiraan kami, si mas-mas membawa sendiri semangkanya, ternyata, seorang bapak paruh baya sudah siap dengan nampan penuh berisi semangka, “mari mbak mas, semangkanya Rp 5000,- dapat 2” dhuaaarrr!!! Ternyata ada yang jual… cerita menarik di Pos I bukan tentang semangka, melainkan tentang seorang anak kecil bernama Mahendra… (cerita berikut sedikit subjektif, maklum curhat)

Mahendra, berusia sekitar 2-3 tahun, tubuhnya yang kecil, hampir setinggi paha saya. Baru saja saya tiba di Pos I, tiba-tiba saya merasa ada tangan kecil dan dingin menyentuh betis. Kaget, lalu senang melihat ada makhluk kecil mendekat. Setelah meletakkan carrier, saya dekati di Mahendra kecil, mukanya belepotan tanah bercampur ingus, terlihat sangat kotor dan menyedihkan. Kalau saja matanya tidak bersinar dan senyumnya yang manis tidak mengembang, rasa kasian sudah menjalari hati saya. Tapi ada sesuatu yang lain, yang membuat saya tertarik pada laki-laki kecil itu, caranya mendekati tapi menolak ajakan gendongan saya, membuat saya penasaran, bahkan sampai sekarang. Teringat ada permen di tas kecil, saya keluarkan, sambil sebelumnya meminta ijin pada sang ibu, siapa tau Mahendra kecil tidak boleh makan permen. Tangan kecilnya menerima permen dari tangan saya. Setelah itu, dia justru lengket pada Satria, dengan entengnya Satria berhasil mengajak Mahendra kecil untuk bermain dan bahkan digendong! Seperti pertunjukan kecil yang mengharukan, Tingkah Satria dan Mahendra kecil, menarik perhatian bapak-bapak yang langsung mengarahkan kamera pada mereka. Sependapat dengan Pak Agung, laki-laki usia 40-an yang berasal dari Jember tersebut, saya langsung mengarahkan kamera hp dan pocket pada mereka. Moment membahagiakan… Sayangnya, Mahendra kecil harus segera pulang bersama kakak dan ibunya. Semoga dia dan keluarganya bahagia… Semoga dia tumbuh menjadi pemuda harapan bangsa.

Angel's Eyes does exist. Mahendra kecil, menyulap lelah dengan pancaran sinar matanya

Bukan bapak-anak melainkan laki-laki dewasa yang menemukan masa kecilnya pada Mahendra
Sampai jumpa Mahendra, terima kasih sudah menculik hati saya dalam sekejap

Cerita tentang Mahendra kecil, menjadi penutup catatan perjalanan di Pos I, dan juga part I, bukan apa-apa, ngantuk ndaaaaa… 

Lanjut besok lagi yaah sekian dulu dari saya @peppyepifanie


Tidak ada komentar:

Posting Komentar