Kaki yang terayun,
ungkapan semangat! Pada setiap pendaki yang dijumpai, nyanyian yang terlantun
bersautan, dan teriakan break!! Yang sering
terdengar, mengiringi perjalanan kami dari POS 1 menuju Ranu Kumbolo.
Kekompakan kami sebagai teman seperjalanan diuji melalui jalur ini.
15.55
Cerita singkat yang menyejukkan antara kami, Mahendra, dan semangka menjadi
bagian memori tak terlupakan sepanjang perjalanan, dan mungkin sepanjang hidup
kami nantinya. Perjalanan masih jauh, Jendral!! Jalur ber-paving blok masih
kami temui sepanjang perjalanan. Beberapa kali berjumpa dengan pendaki yang
baru saja turun. Laki-laki kebanyakan, dan beberapa perempuan berwajah
kelelahan, masih sempat memberikan semangat untuk terus melangkah. Medan yang
masih landai, namun terasa kemiringannya beberapa derajat, kadang cukup membuat
lelah. Vegetasi di kiri masih berupa ilalang dengan daun-daun runcing,
menyerupai bambu, disebelah kanan, kami mulai disuguhi pemandangan jurang yang
cukup dalam. Sampai akhirnya tibalah kami di…
16.30
Landengan
Dowo. Tanda informasi pertama yang kami temui setelah Ranu Pani. Dan…
perjalanan menuju ketinggian 3000 mdpl lebih masih jauh…
sampaikanlah pada
ibuku, aku pulang terlambat waktu, ku akan menaklukkan malam, dengan jalan
pikiranku…. Sampaikanlah pada bapakku aku mencari jalan atas semua
keresahan-keresahan ini, kegelisahan manusia… (Okta-Ost.Gie)
Lirik tersebut selalu
terngiang-ngiang di kepala, sesekali keluar sebagai penyemangat dalam
perjalanan. Keceriaan masih terasa dalam kelompok ini.
tak pernah berhenti
berjuang, pecahkan teka-teki malam… akan aku telusuri jalan yang setapak ini,
semoga ku temukan jawaban…
Ayunan langkah kaki
kami dijalan setapak yang terkadang berpasir, akhirnya mengantarkan kami menuju
ketinggian selanjutnya…
17.01
Watu
Rejeng, ternyata kami telah melalui jalan 3 km dan menambah ketinggian lokasi
kami sebanyak 50 meter. Disini, kami mulai bisa memandang “negeri diatas awan”.
Lautan awan, dengan puncak Mahameru sudah mulai tampak. Pemandangan seperti
itu, semakin memacu adrenalin, semakin menunjukkan kesombongan tak memiliki
tempat, dan rasa syukur adalah harga mati!
![]() |
| negeri di awan |
Suhu dengan derajat
yang semakin mengecil, dan terlalu lama beerhenti, menyebabkan otot menjadi
kaku, dan kram adalah suatu anugerah yang tak bisa dihindarkan. Terhenti sejenak
meski senyum dan semangat masih mengambang. “Disinilah seninya” kata Satria
selalu mengenai pendakian, benar, disinilah seninya memahami diri, memahami
fisik, memahami semangat, memahami jiwa, memahami orang lain, dan memahami
Mahakaryanya. Kenekatan, harus diimbangi dengan persiapan, Semangat harus
diimbangi dengan kekuatan. Terima kasih atas pemahaman yang diberikan oleh
teman seperjalanan.
Sekitar pukul 19.00 kami tiba di Pos II, tampak 2
orang perempuan dan 2 orang laki-laki, rupanya pasangan-pasangan yang sedang
melakukan pendakian bersama. Usut punya usut, mereka berasal dari kota asal
yang berbeda, berjumpa di pendakian, dan memutuskan melakukan pendakian
bersama. Sempat terlintas, kapan akan melakukan pendakian romantis bersama
pasangan? Dan topik tersebut masih menjadi angan dan impian kami selanjutnya
sampai kepulangan kami. Suatu hari nanti, semoga bisa bersama pasangan jiwa
kami masing-masing, mengikrarkan janji untuk mengarungi hidup bersama sampai
maut memisahkan. Amin kawan-kawan?? AMIINNNN!!!!
Setelah menyesap kopi
susu yang ditawarkan oleh pasangan di Pos II tadi, kami melanjutkan perjalanan
dan sekitar pukul 20.00 sampailah
kami di Pos III. Ramai para pendaki sedang berhenti di Pos III, jalur ini cukup
menjebak, tanda penunjuk arah yang kecil dan berada di batang pohon yang cukup
tinggi, membuat kami hampir salah arah jika saja mereka yang ada di Pos III tidak
meneriaki kami untuk mengambil jalur sebelah kanan. Setelah Pos III persis di
depannya, terdapat 2 jalur, landai dan menanjak. Menuju Ranu Kumbolo kami harus
melewati jalur yang menanjak dan berpasir. Sebelumnya, salah satu rombongan
pendaki yang kami temui, menyebut tanjakan tersebut sebagai tanjakan asam urat.
Meskipun nama sebenarnya adalah tanjakan bakri *jika salah mohon koreksinya*
Medan yang menanjak,
dengan kemiringan 60˚ dan berpasir, menjadi awal perjalanan malam dan menanjak
kami. Head lamp sudah terpasang, kewaspadaan meningkat, aba-aba mengenai medan
yang harus dilalui selalu terdengar untuk memperingatkan kawan yang berada
dibelakang.
Akar, batu, jembatan
kayu, sisa longsor, lubang dipinggir jurang menjadi teman perjalanan kami, sampai
akhirnya…
21.00
Ranu
Kumbolo yang melegenda sudah terlihat!!! Namun sebelumnya, kami harus melalui
turunan curam dan berpasir. Ampun boss!!, udara yang luar biasa dingin, malam
hari, oksigen yang semakin menipis, dan kecemburuan kaki kiri saya terhadap kaki
kanan. Akhirnya lengkap sudah anugerah yang saya dapatkan, kram! Pikiran saya
terpecah, Jiwa saya mulai bertengkar. Antara ketakutan akan turunan *belum
sampai fobia untungnya*, keinginan untuk menikmati Ranu Kumbolo, dan melawan
dingin yang menusuk tulang akhirnya luluh melalui air mata yang mengalir tanpa
ijin. Teman-teman yang sudah berada dibawah segera diberitahu mengenai kejadian
di turunan, sesegera mungkin mereka mendirikan tenda, tanpa memikirkan tempat.
Susah payah menuruni medan berpasir, akhirnya saya, Satria, Edo, dan Si Om -yang
menyusul dengan heroik-, sampai di bawah. Entah berapa suhu malam itu, yang
jelas cukup membuat otak saya membeku. Makan malam pun dibuat di teras tenda
yang dibuat berhadapan dengan tenda kecil. Salur menyalur makanan dan minuman
pun dilakukan. Meskipun hanya mie instan, cukup untuk bekal kami tidur malam
itu. Rasanya, ingin segera berlalu malam yang dingin dan berjumpa dengan
matahari pagi.
Sabtu,
6 September 2014
| Sunrise Ranu Kumbolo |
05.00
Dari
dalam tenda, suara rebut diluar mulai terdengar, dan kegelapan mulai
ditinggalkan. Saya, Shindy dan Satria memutuskan untuk melawan dinginnya pagi
itu, demi menikmati sunrise dari Ranu Kumbolo.
tapi aku takut, kamu
kedinginan (Tulus- Sepatu)
Adalah lagu yang
cocok untuk pagi itu. Dingin yang masih menusuk, memaksa kami untuk terus
bergerak. Kepulan asap dari salah satu tenda pendaki, menarik kami untuk
mengayunkan arah menuju ke “pusat” hangat. Adalah Mas Ali *atau Ari* sang
pemilik api unggun dari sampah, laki-laki berperawakan kurus dan berasal dari
Semarang ini, baru tiba di Ranu Kumbolo. Berdua, bersama seorang kawannya berkebangsaan
Jerman, yang saat itu sedang tidur di dome,
akan melakukan pendakian menuju puncak hari itu. Perkenalan singkat yang hangat
*ada api unggun soalnya* dengan mas Ari, berbagi cerita mengenai perjalanan
menuju Ranu Kumbolo. Sebenarnya mereka tidak berniat mendirikan tenda, namun
apa daya, temannya yang notabene orang luar dengan 4 musim tersebut,
kedinginan. *bule aja kedinginan opo meneh aku bosss*. Selesai menghangatkan
diri, kamipun pamit untuk melanjutkan niat menikmati terbitnya matahari dari
celah bukit BH Ranu Kumbolo (mirip celah beha sih, ya maap penamaannya agak
gimana).
| Mas Ali dan api unggunnya yang menyelamatkan |
08.00
Matahari
pagi itu, sangat membantu, puas mengambil gambar dan menghangatkan diri. Kami kembli
ke tenda, memasak sarapan pagi, mengisi air, dan membangunkan Adi, Edo, dan
Hendra yang masih terlelap. Pagi itu, diputuskan untuk memasak, sup wortel,
kentang dan macaroni!
![]() |
| this is it!! Sup Wortel Kentang Macaroni Ranu Kumbolo |
| Salam Bagi Barisan Para Mantan #bribikan |
![]() |
| Prasasti Ranu Kumbolo |
![]() |
| Ranu Kumbolo di siang hari |
09.55
berkemas
untuk melanjutkan perjalanan menuju Kali Mati, tak lupa melakukan pemanasan
agar tidak terjadi kram yang tidak diinginkan.
| tenda kami di Ranu Kumbolo |
10.20
sampai
jumpa besok Ranu Kumbolo!!!! Terima kasih atas malam yang membekukan otak, pagi
yang menghangatkan, jejak yang ditinggalkan pada ilalang, dan air yang memenuhi
botol minum kami.
Ucapkan halo pada
Kantor, anjing hasil perkawinan pitbull dan anjing kampung. Si kaki empat berusia
7 bulan yang sudah terlatih, meskipun belum sampai puncak, dia sudah bolak
balik ke Kalimati
![]() |
| Kantor |
10.50
Inilah
dia Tanjakan Cinta!!! Jika Si om, Denit, dan Hendra bertekad untuk menaikinya menyebutkan
nama seorang yang dicintai tanpa menoleh kebelakang, saya justru sebaliknya,
lemas melihat tanjakan curam dan berpasir. Ah sudahlah!! Bukankah hidup kita
lebih menantang dari tanjakan cinta? *etsaaahhh
![]() |
| Tanjakan Cinta, sebut nama orang yang kamu cintai, hati-hati jangan sampai menoleh ke belakang |
Setelah memanjatkan
doa pada plakat memorial beberapa pendaki, Here We Come!!! Tanjakan Cinta!!! Mengabaikan
panggilan teman di belakang yang iseng agar membatalkan niat untuk memenuhi
mitos tanjakan cinta Denit, Hendra, dan Si Om melaju meninggalkan Saya, Edo,
Shindy, Satria, dan Adi dibelakang. Tapi, tampaknya mitos tersebut tidak
berlaku bagi Adi, berkali-kali dia berhenti dan memandang ke arah Ranu Kumbolo.
Sedangkan saya, memikirkan sebuah nama pun tak sempat, saya cuma berpikir
tanjakan saya ini harus segera saya lalui.
11.00
akhirnya
selamat melalui tanjakan cinta yang legendaris. Di depan kami terhampar lembah
oro-oro ombo yang berwarna coklat dn kuning. Kesan kering yang ditampilkan
disegarkan dengan warna biru langit yang membius.
![]() |
| Lembah Oro-Oro Ombo |
Terdapat 2 jalur yang bisa
dilalui, menuruni bukit dengan jalan curam berpasir atau melalui jalur landai
disisi bukit. Kelompok pun terbagi dua, Shindy, Denit, Hendra dan Si om melalui
jalur bawah; Saya, Satria, Edo dan Adi melalui jalur disisi bukit yang lebih
adem. Simple alasannya, saya enggan melalui turunan curam dan berpasir *lagi-lagi*
![]() |
| Jalur atas |
![]() |
| Jalur bawah, perhatikan turunan di belakang |
12.00
Cemoro
Kandang yang sejuk menyambut kami dengan hadirnya penjual semangka, semakin
sejuk ditambah dengan mas-mas bule bearded man yang sedang beristirahat
*subjektif yo ben, penulis bebas pokmen* cukup lama kami beristirahat,
menikmati bukit yang berwarna kuning, dan padang sabana yang berwarna coklat. Sayangnya
lavender di Oro-oro ombo sedang mengering.
![]() |
| There's a Bearded Man sun-bathing on the ground at Cemoro Kandang |
12.45
perjalanan
dimulai lagi, medan yang berpasir dan menanjak menjadi teman diperjalanan kami.
Luar biasa… menantang. Dikiri kanan membentang hutan, meskipun pohon-pohon
besar tidak terlalu rapat, setidaknya vegetasi berupa semak-semak berwarna
hijau menjadi pemandangan menyejukkan diantara kepulan debu dari pendaki yang
naik maupun turun.
13.03
medan
yang cukup berat membuat kami cepat merasa lelah, akhirnya diputuskan untuk
beristirahat dengan durasi yang lama. Melihat hamparan rumput kering membuat
kami segera merebahkan diri. Jam makan siang pun sudah tiba. Roti, susu, dan
mie instan dikeluarkan. Lumayan, nambah tenaga.
14.00
Kembali
berkemas dan membangunkan Edo yang sedang tidur, perjalanan melalui medan yang
terus menanjak tanpa ampun sudah menanti kami. Di tengah perjalanan, Shindy
mulai lemas, oksigen yang semakin menipis membuatnya tak sanggup. Perjalanan pun
kami perlambat temponya, dengan berkali-kali break. Si om, kembali menjadi
pahlawan, carrier-nya yang berisi dua tenda tidak menyurutkan semangatnya untuk
membantu meringankan beban teman. Dua buah carrier menggantung di badannya, dan
memutuskan untuk mempercepat langkah kakinya mendahului kami.
16.00
Selamat
tinggal jalanan menanjak dan berdebu, halo edelweiss, halo Mahameru!! Akhirnya sampailah
kami di Jambangan. Mahameru semakin dekat dimata. Vegetasi pegunungan sudah berubah
lagi, edelweis mulai menyapa, daun-daun tebal dan berbentuk unik mulai
terlihat, bunga-bunga cantik berwarna kuning sedang bermekaran. Di Jambangan,
kami rehat sejenak, menikmati segarnya semangka. Buah bulat berkulit hijau dan
dalamnya berwarna merah ini, menjadi ikon dalam pendakian kami, kehadirannya
dalam Rp 5000,- tiap 2 iris menjadi penyegar dahaga. Terlihat beberapa pendaki
yang hendak naik maupun turun sedang beristirahat. Hari semakin sore, kami
melanjutkan perjalanan menuju Kalimati, sebelum gelap datang.
![]() |
| Semangka the icon. Semangka!!! Semangat Kakak! |
![]() |
| Edelweis di Jambangan |
16.30
Kalimati,
sudah ramai oleh tenda pendaki. Kami memutuskan untuk berada lebih dekat dengan
pepohonan, mengingat pengalaman kedinginan yang menusuk di Ranu Kumbolo. Tenda didirikan
diantara pohon, semak, dan tenda pendaki lain. Rupanya tenda yang kami dirikan
berada di spot yang luar biasa, Berada di hadapan Mahameru, dan dengan mudah
menikmati sinar bulan yang hampir purnama. Persediaan air yang menipis,
akhirnya membawa Edo dan Si om untuk mengisi botol-botol kami yang kosong ke
Sumber Mani. Butuh waktu satu jam perjalanan bolak-balik dari Kalimati-Sumber
Mani. Dengan medan yang kata mereka sangat menanjak. Hahaha… semangat gais!!!
| Edelweis di Kalimati |
| Mahameru over our dome |
Air datang, makan
malam pun siap untuk dimasak. Malam itu kami kurang beruntung, gas kalengan
yang berkali-kali mati, membuat nasi yang dimasak Satria menjadi kurang matang.
Mengingat mala mini akan berangkat Summit, maka saya memutuskan untuk memasak
mi instan dengan irisan sosis, setidaknya ada karbohidrat yang masuk.
Setelah makan
diputuskan siapa saja yang akan berangkat Summit. Saya dan Adi, memutuskan
untuk tidak berangkat, sedangkan 6 orang teman kami lainnya akan melakukan
perjalanan pada sekitar pukul 23.00
Mahameru semakin
dekat, mental dan fisik perlu untuk dipersiapkan. Malam itu, kami berusaha
mengisi tenaga, mempersiapkan hari yang panjang berikutnya.
Cerita selanjutnya
menunggu tulisan @satria_gayo sekian Part II dari saya @peppyepifanie
berbagi waktu dengan alam, kau kan tau siapa dirimu sebenarnya…


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar