Sabtu, 13 September 2014

Persemayaman Para Dewa - Part II

Kaki yang terayun, ungkapan semangat! Pada setiap pendaki yang dijumpai, nyanyian yang terlantun bersautan, dan teriakan break!! Yang sering terdengar, mengiringi perjalanan kami dari POS 1 menuju Ranu Kumbolo. Kekompakan kami sebagai teman seperjalanan diuji melalui jalur ini.



15.55 Cerita singkat yang menyejukkan antara kami, Mahendra, dan semangka menjadi bagian memori tak terlupakan sepanjang perjalanan, dan mungkin sepanjang hidup kami nantinya. Perjalanan masih jauh, Jendral!! Jalur ber-paving blok masih kami temui sepanjang perjalanan. Beberapa kali berjumpa dengan pendaki yang baru saja turun. Laki-laki kebanyakan, dan beberapa perempuan berwajah kelelahan, masih sempat memberikan semangat untuk terus melangkah. Medan yang masih landai, namun terasa kemiringannya beberapa derajat, kadang cukup membuat lelah. Vegetasi di kiri masih berupa ilalang dengan daun-daun runcing, menyerupai bambu, disebelah kanan, kami mulai disuguhi pemandangan jurang yang cukup dalam. Sampai akhirnya tibalah kami di…



16.30 Landengan Dowo. Tanda informasi pertama yang kami temui setelah Ranu Pani. Dan… perjalanan menuju ketinggian 3000 mdpl lebih masih jauh…

sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu, ku akan menaklukkan malam, dengan jalan pikiranku…. Sampaikanlah pada bapakku aku mencari jalan atas semua keresahan-keresahan ini, kegelisahan manusia… (Okta-Ost.Gie)

Lirik tersebut selalu terngiang-ngiang di kepala, sesekali keluar sebagai penyemangat dalam perjalanan. Keceriaan masih terasa dalam kelompok ini.

tak pernah berhenti berjuang, pecahkan teka-teki malam… akan aku telusuri jalan yang setapak ini, semoga ku temukan jawaban…

Ayunan langkah kaki kami dijalan setapak yang terkadang berpasir, akhirnya mengantarkan kami menuju ketinggian selanjutnya…



17.01 Watu Rejeng, ternyata kami telah melalui jalan 3 km dan menambah ketinggian lokasi kami sebanyak 50 meter. Disini, kami mulai bisa memandang “negeri diatas awan”. Lautan awan, dengan puncak Mahameru sudah mulai tampak. Pemandangan seperti itu, semakin memacu adrenalin, semakin menunjukkan kesombongan tak memiliki tempat, dan rasa syukur adalah harga mati!

negeri di awan

Suhu dengan derajat yang semakin mengecil, dan terlalu lama beerhenti, menyebabkan otot menjadi kaku, dan kram adalah suatu anugerah yang tak bisa dihindarkan. Terhenti sejenak meski senyum dan semangat masih mengambang. “Disinilah seninya” kata Satria selalu mengenai pendakian, benar, disinilah seninya memahami diri, memahami fisik, memahami semangat, memahami jiwa, memahami orang lain, dan memahami Mahakaryanya. Kenekatan, harus diimbangi dengan persiapan, Semangat harus diimbangi dengan kekuatan. Terima kasih atas pemahaman yang diberikan oleh teman seperjalanan.

Sekitar pukul 19.00 kami tiba di Pos II, tampak 2 orang perempuan dan 2 orang laki-laki, rupanya pasangan-pasangan yang sedang melakukan pendakian bersama. Usut punya usut, mereka berasal dari kota asal yang berbeda, berjumpa di pendakian, dan memutuskan melakukan pendakian bersama. Sempat terlintas, kapan akan melakukan pendakian romantis bersama pasangan? Dan topik tersebut masih menjadi angan dan impian kami selanjutnya sampai kepulangan kami. Suatu hari nanti, semoga bisa bersama pasangan jiwa kami masing-masing, mengikrarkan janji untuk mengarungi hidup bersama sampai maut memisahkan. Amin kawan-kawan?? AMIINNNN!!!!

Setelah menyesap kopi susu yang ditawarkan oleh pasangan di Pos II tadi, kami melanjutkan perjalanan dan sekitar pukul 20.00 sampailah kami di Pos III. Ramai para pendaki sedang berhenti di Pos III, jalur ini cukup menjebak, tanda penunjuk arah yang kecil dan berada di batang pohon yang cukup tinggi, membuat kami hampir salah arah jika saja mereka yang ada di Pos III tidak meneriaki kami untuk mengambil jalur sebelah kanan. Setelah Pos III persis di depannya, terdapat 2 jalur, landai dan menanjak. Menuju Ranu Kumbolo kami harus melewati jalur yang menanjak dan berpasir. Sebelumnya, salah satu rombongan pendaki yang kami temui, menyebut tanjakan tersebut sebagai tanjakan asam urat. Meskipun nama sebenarnya adalah tanjakan bakri *jika salah mohon koreksinya*

Medan yang menanjak, dengan kemiringan 60˚ dan berpasir, menjadi awal perjalanan malam dan menanjak kami. Head lamp sudah terpasang, kewaspadaan meningkat, aba-aba mengenai medan yang harus dilalui selalu terdengar untuk memperingatkan kawan yang berada dibelakang.
Akar, batu, jembatan kayu, sisa longsor, lubang dipinggir jurang menjadi teman perjalanan kami, sampai akhirnya…



21.00 Ranu Kumbolo yang melegenda sudah terlihat!!! Namun sebelumnya, kami harus melalui turunan curam dan berpasir. Ampun boss!!, udara yang luar biasa dingin, malam hari, oksigen yang semakin menipis, dan kecemburuan kaki kiri saya terhadap kaki kanan. Akhirnya lengkap sudah anugerah yang saya dapatkan, kram! Pikiran saya terpecah, Jiwa saya mulai bertengkar. Antara ketakutan akan turunan *belum sampai fobia untungnya*, keinginan untuk menikmati Ranu Kumbolo, dan melawan dingin yang menusuk tulang akhirnya luluh melalui air mata yang mengalir tanpa ijin. Teman-teman yang sudah berada dibawah segera diberitahu mengenai kejadian di turunan, sesegera mungkin mereka mendirikan tenda, tanpa memikirkan tempat. Susah payah menuruni medan berpasir, akhirnya saya, Satria, Edo, dan Si Om -yang menyusul dengan heroik-, sampai di bawah. Entah berapa suhu malam itu, yang jelas cukup membuat otak saya membeku. Makan malam pun dibuat di teras tenda yang dibuat berhadapan dengan tenda kecil. Salur menyalur makanan dan minuman pun dilakukan. Meskipun hanya mie instan, cukup untuk bekal kami tidur malam itu. Rasanya, ingin segera berlalu malam yang dingin dan berjumpa dengan matahari pagi.

Sabtu, 6 September 2014

Sunrise Ranu Kumbolo

05.00 Dari dalam tenda, suara rebut diluar mulai terdengar, dan kegelapan mulai ditinggalkan. Saya, Shindy dan Satria memutuskan untuk melawan dinginnya pagi itu, demi menikmati sunrise dari Ranu Kumbolo.

tapi aku takut, kamu kedinginan (Tulus- Sepatu)

Adalah lagu yang cocok untuk pagi itu. Dingin yang masih menusuk, memaksa kami untuk terus bergerak. Kepulan asap dari salah satu tenda pendaki, menarik kami untuk mengayunkan arah menuju ke “pusat” hangat. Adalah Mas Ali *atau Ari* sang pemilik api unggun dari sampah, laki-laki berperawakan kurus dan berasal dari Semarang ini, baru tiba di Ranu Kumbolo. Berdua, bersama seorang kawannya berkebangsaan Jerman, yang saat itu sedang tidur di dome, akan melakukan pendakian menuju puncak hari itu. Perkenalan singkat yang hangat *ada api unggun soalnya* dengan mas Ari, berbagi cerita mengenai perjalanan menuju Ranu Kumbolo. Sebenarnya mereka tidak berniat mendirikan tenda, namun apa daya, temannya yang notabene orang luar dengan 4 musim tersebut, kedinginan. *bule aja kedinginan opo meneh aku bosss*. Selesai menghangatkan diri, kamipun pamit untuk melanjutkan niat menikmati terbitnya matahari dari celah bukit BH Ranu Kumbolo (mirip celah beha sih, ya maap penamaannya agak gimana).

Mas Ali dan api unggunnya yang menyelamatkan


08.00 Matahari pagi itu, sangat membantu, puas mengambil gambar dan menghangatkan diri. Kami kembli ke tenda, memasak sarapan pagi, mengisi air, dan membangunkan Adi, Edo, dan Hendra yang masih terlelap. Pagi itu, diputuskan untuk memasak, sup wortel, kentang dan macaroni!

this is it!! Sup Wortel Kentang Macaroni Ranu Kumbolo

Salam Bagi Barisan Para Mantan #bribikan

Prasasti Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo di siang hari

09.55 berkemas untuk melanjutkan perjalanan menuju Kali Mati, tak lupa melakukan pemanasan agar tidak terjadi kram yang tidak diinginkan.

tenda kami di Ranu Kumbolo

10.20 sampai jumpa besok Ranu Kumbolo!!!! Terima kasih atas malam yang membekukan otak, pagi yang menghangatkan, jejak yang ditinggalkan pada ilalang, dan air yang memenuhi botol minum kami.
Ucapkan halo pada Kantor, anjing hasil perkawinan pitbull dan anjing kampung. Si kaki empat berusia 7 bulan yang sudah terlatih, meskipun belum sampai puncak, dia sudah bolak balik ke Kalimati

Kantor

10.50 Inilah dia Tanjakan Cinta!!! Jika Si om, Denit, dan Hendra bertekad untuk menaikinya menyebutkan nama seorang yang dicintai tanpa menoleh kebelakang, saya justru sebaliknya, lemas melihat tanjakan curam dan berpasir. Ah sudahlah!! Bukankah hidup kita lebih menantang dari tanjakan cinta? *etsaaahhh

Tanjakan Cinta, sebut nama orang yang kamu cintai, hati-hati jangan sampai menoleh ke belakang
Setelah memanjatkan doa pada plakat memorial beberapa pendaki, Here We Come!!! Tanjakan Cinta!!! Mengabaikan panggilan teman di belakang yang iseng agar membatalkan niat untuk memenuhi mitos tanjakan cinta Denit, Hendra, dan Si Om melaju meninggalkan Saya, Edo, Shindy, Satria, dan Adi dibelakang. Tapi, tampaknya mitos tersebut tidak berlaku bagi Adi, berkali-kali dia berhenti dan memandang ke arah Ranu Kumbolo. Sedangkan saya, memikirkan sebuah nama pun tak sempat, saya cuma berpikir tanjakan saya ini harus segera saya lalui.

11.00 akhirnya selamat melalui tanjakan cinta yang legendaris. Di depan kami terhampar lembah oro-oro ombo yang berwarna coklat dn kuning. Kesan kering yang ditampilkan disegarkan dengan warna biru langit yang membius. 

Lembah Oro-Oro Ombo

Terdapat 2 jalur yang bisa dilalui, menuruni bukit dengan jalan curam berpasir atau melalui jalur landai disisi bukit. Kelompok pun terbagi dua, Shindy, Denit, Hendra dan Si om melalui jalur bawah; Saya, Satria, Edo dan Adi melalui jalur disisi bukit yang lebih adem. Simple alasannya, saya enggan melalui turunan curam dan berpasir *lagi-lagi*

Jalur atas

Jalur bawah, perhatikan turunan di belakang

12.00 Cemoro Kandang yang sejuk menyambut kami dengan hadirnya penjual semangka, semakin sejuk ditambah dengan mas-mas bule bearded man yang sedang beristirahat *subjektif yo ben, penulis bebas pokmen* cukup lama kami beristirahat, menikmati bukit yang berwarna kuning, dan padang sabana yang berwarna coklat. Sayangnya lavender di Oro-oro ombo sedang mengering.


There's a Bearded Man sun-bathing on the ground at Cemoro Kandang

12.45 perjalanan dimulai lagi, medan yang berpasir dan menanjak menjadi teman diperjalanan kami. Luar biasa… menantang. Dikiri kanan membentang hutan, meskipun pohon-pohon besar tidak terlalu rapat, setidaknya vegetasi berupa semak-semak berwarna hijau menjadi pemandangan menyejukkan diantara kepulan debu dari pendaki yang naik maupun turun.

13.03 medan yang cukup berat membuat kami cepat merasa lelah, akhirnya diputuskan untuk beristirahat dengan durasi yang lama. Melihat hamparan rumput kering membuat kami segera merebahkan diri. Jam makan siang pun sudah tiba. Roti, susu, dan mie instan dikeluarkan. Lumayan, nambah tenaga.

14.00 Kembali berkemas dan membangunkan Edo yang sedang tidur, perjalanan melalui medan yang terus menanjak tanpa ampun sudah menanti kami. Di tengah perjalanan, Shindy mulai lemas, oksigen yang semakin menipis membuatnya tak sanggup. Perjalanan pun kami perlambat temponya, dengan berkali-kali break. Si om, kembali menjadi pahlawan, carrier-nya yang berisi dua tenda tidak menyurutkan semangatnya untuk membantu meringankan beban teman. Dua buah carrier menggantung di badannya, dan memutuskan untuk mempercepat langkah kakinya mendahului kami.

16.00 Selamat tinggal jalanan menanjak dan berdebu, halo edelweiss, halo Mahameru!! Akhirnya sampailah kami di Jambangan. Mahameru semakin dekat dimata. Vegetasi pegunungan sudah berubah lagi, edelweis mulai menyapa, daun-daun tebal dan berbentuk unik mulai terlihat, bunga-bunga cantik berwarna kuning sedang bermekaran. Di Jambangan, kami rehat sejenak, menikmati segarnya semangka. Buah bulat berkulit hijau dan dalamnya berwarna merah ini, menjadi ikon dalam pendakian kami, kehadirannya dalam Rp 5000,- tiap 2 iris menjadi penyegar dahaga. Terlihat beberapa pendaki yang hendak naik maupun turun sedang beristirahat. Hari semakin sore, kami melanjutkan perjalanan menuju Kalimati, sebelum gelap datang.


Semangka the icon. Semangka!!! Semangat Kakak!

Edelweis di Jambangan

16.30 Kalimati, sudah ramai oleh tenda pendaki. Kami memutuskan untuk berada lebih dekat dengan pepohonan, mengingat pengalaman kedinginan yang menusuk di Ranu Kumbolo. Tenda didirikan diantara pohon, semak, dan tenda pendaki lain. Rupanya tenda yang kami dirikan berada di spot yang luar biasa, Berada di hadapan Mahameru, dan dengan mudah menikmati sinar bulan yang hampir purnama. Persediaan air yang menipis, akhirnya membawa Edo dan Si om untuk mengisi botol-botol kami yang kosong ke Sumber Mani. Butuh waktu satu jam perjalanan bolak-balik dari Kalimati-Sumber Mani. Dengan medan yang kata mereka sangat menanjak. Hahaha… semangat gais!!!




Edelweis di Kalimati

Mahameru over our dome

Air datang, makan malam pun siap untuk dimasak. Malam itu kami kurang beruntung, gas kalengan yang berkali-kali mati, membuat nasi yang dimasak Satria menjadi kurang matang. Mengingat mala mini akan berangkat Summit, maka saya memutuskan untuk memasak mi instan dengan irisan sosis, setidaknya ada karbohidrat yang masuk.

Setelah makan diputuskan siapa saja yang akan berangkat Summit. Saya dan Adi, memutuskan untuk tidak berangkat, sedangkan 6 orang teman kami lainnya akan melakukan perjalanan pada sekitar pukul 23.00

Mahameru semakin dekat, mental dan fisik perlu untuk dipersiapkan. Malam itu, kami berusaha mengisi tenaga, mempersiapkan hari yang panjang berikutnya.

Cerita selanjutnya menunggu tulisan @satria_gayo sekian Part II dari saya @peppyepifanie

berbagi waktu dengan alam, kau kan tau siapa dirimu sebenarnya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar